Senin, 25 April 2011

Berita dan Reportase


Ada seseorang kalau tidak salah, namanya Steven Cowan. Dia memberikan studi dan daftar bahwa semangat jangoistik dari pers Amerika, memang sangat berapi-api. Terbawa oleh kemarahan mereka, setelah menyaksikan penyerangan yang menimpa gedung World Trade Center. Sejak itu, saya tidak pernah mau melihat lagi televisi Amerika.

Sampai terakhir saat saya kembali berada di Amerika, saya melihat televisi Amerika hanya untuk mengetahui ramalan cuaca. Sedangkan untuk mengambil berita, saya hanya mengklik saja dari BBC, The Guardian dan The New York Time Online.

Jadi memang ada suatu bias yang berlebihan dari pers Amerika setelah World Trade Center diserang. Terutama jika dilihat dari segi pemberitaan yang disampaikan oleh stasiun televisi Amerika. Bahkan CNN dengan menggunakan satu nota khusus dari presiden direkturnya meminta supaya penggambaran yang baik tentang Taliban dikurangi. Ada datanya pada saya. Tetapi seperti yang saya katakan tadi, banyak oposisi terhadap hal ini. Ketika saya berada di Aneurberg, ada satu panel diskusi yang menarik berlangsung beberapa bulan yang lalu. Tema diskusi tersebut mengkaji tentang bagaimana meliput Islam dan keturunan Arab yang berada di Amerika. Satu kritik diri yang tajam sekali dilakukan oleh para wartawan Amerika, mereka memang mengakui banyak yang salah.

Salah satu yang juga menjadi sasaran kritik adalah harian The New York Times. Ketika terjadi demonstrasi anti-perang yang berlangsung di London, New York Times ternyata tak memberitakan apa-apa. Padahal saat itu, ada 100.000 orang lebih yang melaksanakan demonstrasi anti perang di London.

Tadi malam saya juga baru dapat e-mail (7 November), ketika kemarin terjadi demonstrasi anti perang di New York, disebut jumlahnya 10.000 oleh New York Times. Padahal jumlahnya mencapai angka 100.000. New York Times mengurangi jumlah para demonstran yang anti perang. Tetapi kemudian timbul protes besar-besaran, sehingga juru bicara New York Times terpaksa melihat kembali apa yang terjadi.

Nah, kalau kita lihat ke Indonesia, kita tak lebih baik. Dalam memberitakan pengeboman di Bali, kita terlalu cepat mengambil kesimpulan. Banyak faktor yang mempengaruhi hal itu terjadi karena kita tergesa-gesa atau terbawa oleh emosi ataupun oleh faktor praduga-praduga kita. Lalu terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Ini kutipan dari pandangan seorang tokoh pers Indonesia, Goenawan Mohamad, tentang berita dan kecenderungannya, pada akhir abad 20. (Goenawan Mohamad, 2002, Dalam Diskusi ISAI/Majalah Pantau; Liputan Media Tentang Bali: Mana Jurnalisme Mana Propaganda? 7-8 November 2002, Teater Utan Kayu, Jalan Utan Kayu 68H, Jakarta)

Ia memaparkan bagaimana sebuah pemberitaan itu bisa bercampur dengan kepentingan di luar jurnalisme. Ia menanggapi kecenderungan Jinggoistik dari pemberitaan media di Amerika. Pangkal soalnya ialah sikap pemberitaan AS di dalam memberitakan Tragedi Runtuhnya Gedung Menara Kembar World Trade Centre, di New York, pada 11 September 2001. Pemberitaannya menjadi berat sebelah, dengan mengambil sikap seperti seorang Cowboy yang marah hendak membalas dendam musuh-musuhnya.

Dekade 1990-an memang memberi wajah yang berbeda pada jurnalisme Amerika, menurut Downie JR dan Kaiser (hlm. 219-222). Para pemilik menekan wartawan untuk menghasilkan laba. Banyak topik berita penting dihilangkan, berganti kisah-kisah selebritis. Bisnis berita mengakibatkan berita tradisional masuk liang kubur.

Semua itu berubah ketika 11 September 2001, gedung WTC runtuh. Para reporter, editor dan produser media elektronik, para kolumnis dan penyiar, mengambil sikap. Mereka mengenyampingkan pertimbangan komersil. Mereka tergerak untuk membuat pekabaran kepada masyarakat dengan semangat yang hampir musnah sebelumnya, dengan sikap responsibilitas dan upaya pengisahan berita yang berbeda. Para pembaca dan pemirsa mendapatkan liputan yang jarang ada sebelumnya.

Serangan itu memberi efek luar biasa pada berbagai organisasi berita. Mereka kembali melihat demokrasi harus ditegakan. Khalayak berita membutuhkan penjelasan yang detil, komprehensif, informasi yang cerdas. Dan, yang terlebih penting, mereka terhenyak. Tidak lagi bersikap menyalah-nyalahkan pelbagai pihak kepada para pembaca atau pemirsa, dan para konsumen berita. Mereka kembali mencari, seperti jurnalisme di awal tumbuhnya, jawaban apa yang telah terjadi. Serangan dan reaksi masyarakat, yang membingkai wacana publik saat itu, seakan memberi “pandangan baru”, a new look at life.

Hampir semua orang yang terlibat di bisnis berita bekerja secara mengesankan dalam melayani para pembaca dan pemirsanya. Banyak suratkabar menerbitkan edisi ekstra, mengabarkan rincian kisah pada hari-hari itu. Jaringan televisi mengorbankan siaran komersialnya, selama hari-hari itu. Jurnalisme tidak lagi diletakan sebagai alat peraga, uniformly excellent, melaikan kembali kepada alat pentingnya, yaitu melaporkan esensi nilai berita (news values).

Ini berbeda dengan dekade 1980-an dan 1990-an, dimana berbagai organisasi berita AS telah menjadi medium yang lebih lembut, pemalas, dan anehnya tidak diprotes oleh masyarakatnya. Serangan itu kemudian menghentakan fenomena akan pilihan soft dan hard, atau silly dan serious pada soal news values.

Nilai Berita

Nilai Berita (News Values), menurut Downie JR dan Kaiser, merupakan istilah yang tidak mudah didefinisikan. Istilah ini meliputi segala sesuatu yang tidak mudah dikonsepsikan. Ketinggian nilainya tidak mudah untuk dikonkretkan. Nilai berita juga menjadi tambah rumit bila dikaitakan dengan sulitnya mengonsepsi apa yang disebut berita.

Mari kita lihat gambaran berita yang berkembang di Amerika, pada akhir Abad 20, di sebuah kota. Dimulai dengan jam-jam siaran radio, khalayak mendengarkan berita-berita headlines secara staccato (ringkas), seperti hasil skor pertandingan olah raga tadi malam serta laporan harga-harga bahan pokok di pasar-pasar. Berbagai berita komersial stasiun radio itu dibuat dalam keringkasan item-item berita, yang kerap merupakan hasil rekapan-singkat berita koran lokal, ditambah laporan langsung tentang kemacetan di beberapa ruas jalanan kota. Pemberitaan televisi pun terdiri dari sedikit headlines dan pokok-pokok penting dari berita-berita tadi malam. Beberapa stasiun televisi menyajikan beberapa headlines berita dan tambahan wawancara dengan beberapa orang. Tokoh-tokoh beritanya biasanya ialah para entertainers dan beberapa selebritis daripada para pejabat pemerintah atau pakar.

Koran lokal agak lebih variatif. Banyak menampilkan berita-berita lokal, tambah berita lifestyle, olahraga dan keuangan. Ada juga yang menyisipkan berita-berita nasional dan luar negeri. Kebanyakan kisahnya mengetengahkan peristiwa-peristiwa seperti “pendapat/tanggapan seseorang, konprensi pers, keputusan pengadilan, dan pertandingan olahraga. Pada beberapa koran lokal yang baik muncul pemberitaan yang “membuka selubung” sesuatu yang lama (atau sengaja) ditutup-tutupi; informasi yang susah ditemukan dalam publikasi press release atau konperensi pers. Pada beberapa pagi tertentu, beberapa koran yang baik ini mengejutkan pembaca dengan laporan-laporan yang tidak terduga, penuh dengan rincian, dan begitu mendalam.

Sementara itu, para pengguna jaringan berita kabel – seperti CNN, CNBC, ESPN, Fox Cable Newsdan MSNBC – mengikuti berita-berita utama, berupa liputan langsung dan potongan-potongan berita pendek, sepanjang hari itu. Di internet, situs-situs berita juga berloma memasok informasi, dari stok berita lama sampai yang baru terjadi. Beberapa news bulletins mengirimkannya, lewat e-mail, kepada para pelanggannya.

Pada sore hari, televisi lokal melaporkan kisah-kisah lokal yang terjadi di sepanjang hari itu. Di AS, sebelum terjadinya peristiwa WTC, program jaringan berita sore banyak menyuguhi pemirsanya dengan berita-berita softer, semacam berita kesehatan dan feature-feature pendek. Penayangan the prime-time newsmagazines, seperti Dateline dan 20/20, misalnya, memang menyiarkan real news akan tetapi lebih banyak lagi menyiarkan kisah-kisah kriminal, wawancara selebritis, dan semacamnya. Hal ini, dalam kemasan yang berbeda, sejak awal tahun 2000-an, menjamur juga di banyak siaran televisi Indonesia. Banyak paket-paket siaran informasi crime dan celebrity, yang dikelola stasiun televisi ataupun bekerja sama dengan production house swasta, bermunculan di jam-jam tayang prime time.

Demikianlah gambaran news values di berbagai pemberitaan yang mengisi hari-hari masyarakat. Dimanakah nilai berita diletakan?

Elemen Nilai Berita

Beberapa elemen nilai berita, yang mendasari pelaporan kisah berita, ialah: Immediacy, Proximity, Consequence, Conflict, Oddity, Sex, Emotion, Prominence, Suspense, dan Progress. Di dalam sebuah kisah berita, bisa jadi terdapat beberapa elemen yang saling mengisi dan terkait dengan peristiwa yang dilaporkan wartawan.

IMMEDIACY

Immediacy kerap diistilahkan dengan timelines. Artinya terkait dengan kesegeraan peristiwa yang dilaporkan. Sebuah berita sering dinyatakan sebagai laporan dari apa yang baru saja terjadi. Bila peristiwanya terjadi beberapa waktu lalu, hal ini dinamakan sejarah. Unsur waktu amat penting disini.

PROXIMITY

Khalayak berita akan tertarik dengan berbagai peristiwa yang terjadi di dekatnya, di sekitar kehidupan sehari-harinya. Proximity ialah keterdekatan peristiwa dengan pembaca atau pemirsa dalam keseharian hidup mereka. Orang-orang akan tertarik dengan berita-berita yang menyangkut kehidupan mereka, seperti keluarga atau kawan-kawan mereka, atau kota mereka beserta klub-klub olahraga, stasiun, terminal, dan tempat-tempat yang mereka kenali setiap hari.

Melalui unsur ini pula, tergambarkan keberhasilan koran-koran lokal, yang dikelola dengan baik. Mereka mencari perkembangan kota atau propinsi yang menjadi lahan kehidupan terdekat mereka.

CONSEQUENCE

Berita yang merubah kehidupan pembaca adalah berita yang mengandung nilai konsekuensi. Lewat berita kenaikan gaji pegawai negeri, atau kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak), masyarakat dengan segera akan mengikutinya karena terkait dengan konsekuensi kalkulasi ekonomi sehari-hari yang harus mereka hadapi. Putusan parlemen yang mengesahkan Banten menjadi sebuah propinsi, dan lepas dari kewilayahan Jawa Barat, akan diperhatikan masyarakat dikarenakan konsekuensi (bagi para penduduk Banten dan sekitarnya) yang akan dihadapi mereka.

CONFLICT

Peristiwa-peristiwa perang, demonstrasi, atau kriminal, merupakan contoh elemen konflik di dalam pemberitaan. Perseteruan antarindividu, antartim atau antarkelompok, sampai antarnegara, merupakan elemen-elemen natural dari berita-berita yang mengandung konflik.

ODDITY

Peristiwa yang tidak-biasa terjadi ialah sesuatu yang akan diperhatikan segera oleh masyarakat. Kelahiran bayi kembar lima, goyang gempa berskala richter tinggi, pencalonan tukang sapu sebagai kandidat calon gubernur, dan sebagainya, merupakan hal-hal yang akan jadi perhatian masyarakat.

SEX

Kerap sex menjadi satu elemen utama dari sebuah pemberitaan. Tapi, sex sering pula menjadi elemen tambahan bagi pemberitaan tertentu, seperti pada berita sports, selebritis, atau kriminal. Berbagai berita artis hiburan banyak dibumbui dengan elemen sex. Berita politik impacthment Presiden Clinton, AS, banyak terkait dengan unsur sex-nya.

EMOTION

Elemen emotion ini kadang dinamakan dengan elemen human interest. Elemen ini menyangkut kisah-kisah yang mengandung kesedihan, kemarahan, simpati, ambisi, cinta, kebencian, kebahagiaan, atau humor. Elemen emotion sama dengan komedi, atau tragedi.

PROMINENCE

Elemen ini adalah unsur yang menjadi dasar istilah “names make news”, nama membuat berita. Ketika seseorang menjadi terkenal, maka ia akan selalu diburu oleh pembuat berita. Unsur keterkenalan ini tidak dibatasi atau hanya ditujukan kepada status VIP semata. Beberapa tempat, pendapat, dan peristiwa termasuk ke dalam elemen ini. Bali, petuah-petuah hidup, dan Hari Raya memiliki elemen keterkenalan yang diperhatikan banyak orang.

SUSPENSE

Elemen ini menunjukkan sesuatu yang ditunggu-tunggu, pada sebuah peristiwa, oleh masyarakat. Adanya ketegangan menunggu pecahnya perang (invansi) AS ke Irak, adalah salah satu contohnya. Namun, elemen ketegangan ini tidak terkait dengan paparan kisah berita yang berujung pada klimaks kemisterian. Kisah berita yang menyampaikan fakta-fakta tetap merupakan hal yang penting. Kejelasan fakta dituntut masyarakat. Penantian masyarakat pada pelaku “Bom Bali” tetap mengandung kejelasan fakta. Namun, ketegangan masyarakat tetap terjadi selama kasus tersebut dilaporkan media, khususnya kepada rincian fakta kejadiannya beserta wacana politik yang membayanginya.

PROGRESS

Elemen ini merupakan elemen “perkembangan” peristiwa yang ditunggu masyarakat. Kesudahan invansi militer AS ke Irak, misalnya, tetap ditunggu masyarakat. Bagaimana masyarakat Irak seusai perang tersebut membangun pemerintahannya adalah elemen berita yang ditunggu masyarakat. Bagaimana upaya negara-negara yang terkena wabah SARS, pemberitaannya masih diminati masyarakat..

Katagori Berita

Berbagai elemen nilai berita itu harus dipaparkan dengan bahasa pelaporan berita. Penulisannya tidaklah sama dengan menulis makalah, laporan pertanggungjawaban, atau hasil rapat. Dalam jurnalistik, ihwal penulisan berita ini punya tempat yang khusus, dalam arti, dibahas secara khusus: melalui karakteristik dan batasan-batasan yang mesti dipenuhinya (bahasan lengkapnya di Bab Bahasa Jurnalistik Indonesia).

Selain itu, terkait pula dengan jenis pemberitaan yang hendak dikontekskan. Pertandingan sepakbola, yang berlangsung malam hari – yang tidak disiarkan secara langsung oleh televisi – yang masih sempat dikerjakan laporannya, tentu saja, akan disampaikan secara hardnews: dengan penekanan pada hasil skor akhir pertandingannya, ditambah jalannya permainan kedua klub yang bertarung. Akan tetapi, hasil hearing di parlemen, yang berlangsung alot tentang RUU Keadaan Darurat Perang, bisa dilaporkan secara feature news: dengan kedalaman dan perluasan berita yang tidak seketat pemaparan hardnews. Dan, di sepanjang hari itu, tentu saja (lagi) punya banyak peristiwa yang mesti diketahui masyarakat. Ada berita olahraga lain, berita tentang kesehatan, dan peristiwa-peristiwa sosial lainnya.

Dalam kaitan itulah, jurnalistik kemudian membakukan beberapa katagori pemberitaan, seperti: hard news, feature, sports, social, interpretive, science, consumer dan financial .

Hard News

Kisah berita ini merupakan desain utama dari sebuah pemberitaan. Isinya menyangkut hal-hal penting yang langsung terkait dengan kehidupan pembaca, pendengar, atau pemirsa. Kisah-kisahnya biasanya adalah hal-hal yang dianggap penting, dan karena itu segera dilaporkan, oleh koran, radio atau televisi dari semenjak peristiwanya terjadi. Pada koran, beritanya diletakan di halaman depan. Pada televisi dan radio, beritanya disiarkan di jam-jam primetime. Pada situs-situs berita internet, laporan langsung di-up load, pada up dating informasi yang mesti segera diketahui masyarakat.

Feature News

Berita feature ialah kisah peristiwa atau situasi yang menimbulkan kegemparan atau imaji-imaji (pencitraan). Peristiwanya bisa jadi bukan termasuk yang teramat penting harus diketahui masyarakat, bahkan berkemungkinan hal-hal yang telah terjadi beberapa waktu lalu.

Kisahnya memang didesain untuk menghibur. Namun, tetap terkait dengan hal-hal yang menjadi perhatian, atau mengandung informasi, bagi khalayak berita. Subyek beritanya mungkin hanya mengisahkan kegemaran orang-orang, tempat-tempat di kota yang telah dilupakan padahal menyimpan nilai sejarah atau kultur, atau kehidupan seorang sukses yang layak diteladani, dan bisa juga orang-orang kelas bawah yang bertahan di sudut-sudut kota yanh kumuh.

Sports News

Berita-berita olahraga bisa masuk ke katagori hard news atau feature. Selain dari, hasil-hasil pertandingan atau perlombaan atau rangkaian kompetisi musiman, pemberitaan juga meliputi berbagai bidang lain yang terkait sports, seperti tokoh-tokoh olahragawan, kehidupan para pemain olahraga yang hendak bertanding, kesiapan-kesiapan kelompok olahraga di dalam masa pelatihan, sampai para penggemar olahraga tertentu yang fanatik.

Social News

Kisah-kisah kehidupan sosial, seperti sport, bisa masuk ke dalam pemberitaan hard atau feature news. Umumnya, meliputi pemberitaan yang terkait dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, dari soal-soal keluarga sampai ke soal perkawinan anak-anak.

Interpretive

Di kisah berita interpretive ini, wartawan berupaya untuk memberi kedalaman analisis, dan melakukan survei, terhadap berbagai hal yang terkait dengan peristiwa yang hendak dilaporkan.

Science

Dalam kisah berita ini, para wartawan berupaya untuk menjelaskan, dalam bahasa berita, ihwal kemajuan perkembangan keilmuan dan teknologi.

Consumer

Para penulis a consumer story ialah para pembantu khalayak yang hendak membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari, baik yang bersifat kebutuhan primer dan sekunder, seperti peralatan rumah tangga sampai asesoris pakaian.

Financial

Para penulis financial news memokus perhatiannya pada bidang-bidang bisnis, komersial atau investasi. Para penulisnya umumnya mempunyai referensi akademis atau kepakaran terhadap subyek-subyek yang dibahasnya..

Piramida Terbalik

Dunia pers memerlukan kompetensi tertentu. Writing Competencies, menurut Katty Yanchef dalam tulisannya The Professional Journalist of the New Millennium (2000), adalah salah satu kemampuan yang diperlukan.

Ini merupakan kemampuan untuk menulis secara akurat, jelas, kredibel, dan valid. Keterampilan menulis ini antara lain mempersyaratkan:

· Kemampuan menulis secara benar dan baik dalam memakai tanda baca, istilah, dan gejala kebahasaan lainnya

· Pengetahuan dan penggunaan kata-kata

· Kemampuan menyusun dan menulis paragraf demi paragraf

· Dan kemampuan penulisan lainnya

Bagi dunia pers, kemampuan ini dipakai untuk melaporkan berita. Berita merupakan salah satu segi penting dari dunia pers. Melalui berita, pers dibutuhkan masyarakat. Berbagai peristiwa diketahui masyarakat. Pers menjadi mata masyarakat untuk mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat itu begitu beragam. Untuk itu, berita diklasifikasikan ke berbagai jenis. Ada berita politik, berita sosial, berita pendidikan, berita ekonomi, berita sastra dan budaya, dan sebagainya.

Segala jenis berita itu disampaikan wartawan melalui teknik penulisan tertentu: teknik penulisan Piramida Terbalik. Model menulis yang mengikuti bentuk segitiga yang terbalik. Bagian atasnya lebar, bagian bawahnya menyempit. Isi berita ditekankan di di bagian Awal. Selanjutnya, semakin ke bawah, menuju bagian akhir, semakin tidak penting, sisipan-sisipan keterangan.

“Bentuk pengisahannya amat kaku, rigid, seperti pelaporan waktu jaman Perang Sipil di Amerika (American Civil War), yang membutuhkan cerita dengan satu paragrap awal (lead ) dari satu atau dua kalimat yang meringkas esensi beritanya,” jelas Edward Jay Friedlander & John Lee, dalam Feature Writing forNewspapers and Magazies: The Pursuit of Excellence (1988: 2-3). Bagian awal berita dibuat ringkas, tipikalnya tidak lebih dari 35 kata. Penulisannya terurut pada nilai pentingnya informasi, berdasarkan urutan peristiwa yang paling penting sampai kepada yang paling tidak penting.

“Informasi di puncak piramid – lead – merupakan informasi yang sangat penting,” kata Friedlander & Lee (hlm: 29) .

Bentuk piramida, yang mengerucut di bagian bawah, membuat wartawan harus segera mengurutkan laporan beritanya. Bagian yang paling atas merupakan ruang penulis untuk ringkasan isi berita (summary statement). Baru setelah itu, dilanjutkan dengan penjelasan. Yakni, pengembangan detil-detil, fakta-fakta, dan hal-hal lain.

Model Piramida Terbalik ini dibuat wartawan Amerika selama mengikuti kejadian Perang Saudara (Sipil). Setiap berita disampaikan melalui baris-baris telegrap, yang gampang terganggu di tiap saatnya. Dalam situasi itu, sangatlah wajar jika wartawan mengirimkan informasi awalnya berdasar ringkasan penting peristiwa. Dan, para jurnalis kini menyebutnya dengan lead berita.

Kini gaya Piramida Terbalik banyak dipakai dalam penulisan berita. Ruang dan waktu media membutuhkan model piramida ini. Ada dua alasan. “Pertama, para pembaca dapat segera mengetahui isi berita dengan membaca lead dan beberapa paragrap awal. Kedua, memudahkan redaktur memotong berita yang terlalu panjang, lewat materi berita yang tidak begitu penting di ujung bagian bawah berita,” jelas Friedlander & Lee.

Dalam Piramida Terbalik, ringkasan pesannya mesti memiliki kelengkapan informasi. Kelengkapan informasi itu mencakup unsur-unsur pemberitaan 5 W + 1 H, yakni: What (peristiwa apa yang diberitakan), Who (siapa saja yang terlibat dengan peristiwa), When (waktu peristiwanya, kapan saja terjadinya), Where (tempat peristiwa berlangsung, dimana saja kejadiannya), Why (mengapa peristiwa tersebut terjadi, faktor-faktor yang menyebabkan peristiwa terjadi), dan How (bagaimana peristiwa tersebut terjadi).

Unsur-unsur ini membuat kisah berita menjadi jelas, terang, dan langsung dipahami masyarakat. Bagian awal Inverted Pyramid, atau lead, biasanya memuat unsur 5 W + 1 H. Ini agar Khalayak segera mengetahui inti peristiwa yang dilaporkan. Setelah itu, barulah keterangan lebih lanjut dari peristiwa-berita tersebut.

Namun, dalam pemberitaan media sekarang, model Piramida lebih banyak dipakai oleh media elektronik. “Waktu dan ruang” siaran radio atau televisi amatlah ketat. Tiap breaking news harus segera disiarkan dialokasi waktu dan ruang siaran yang sempit. Siaran berita di jam-jam tayangan tertentu mengharuskan kemasan berita yang ringkas, pendek, dan cepat. Sifat Piramida Terbalik memenuhi kebutuhan tersebut.

Begitu pun dengan situs berita di Internet. Medium online journalism ini hanya memiliki ruang sebatas layar monitor. Berbagai kejadian aktual mesti segera dilaporkan tiap detiknya. Berbagai sisipan informasi lanjutan disediakan lewat sifat hypertext yang tinggal di-klik oleh para user. Format kesegeraan pesan dan ruang yang terbatas itu dapat diwadahi oleh Piramida Terbalik.

Pemberitaan koran, medium awal pengguna Piramida Terbalik, telah berubah. Berita koran tidak lagi berpendek-pendek, ringkas, seperti breaking news atau straight news. Koran dikalahkan radio, televisi, dan situs berita. Kecepatan pemberitaannya menurun drastis. Kalah cepat dengan media elektronik. Maka itu, pemberitaan koran kini memokus rincian atau detil-detil kelengkapan berita. Pemberitaan depth reporting atau feature story lebih banyak digunakan. Pemberitaan macam ini mengisi kekosongan kedalaman berita yang belum dilaporkan radio dan televisi.

Perkembangan

"Kita sering mengatakan ada masalah di masyarakat, tetapi kita tidak menanyakan ke masyarakat apakah itu memang masalah mereka," tutur Redmond Batario, Presiden dan Direktur Eksekutif Center for Community Journalism and Development di Filipina (Kompas, 19/10/2002)

Ia menyalahkan jurnalisme yang terkena sindrom “good news ialah bad news” – dikarenakan pemberitaan yang ditangkap secara top down, melalui statement para tokoh, celebs, elit. Selebihnya, adalah tokoh-tokoh nothing. Cuma berita-berita kecil, mengharukan, dari orang-orang kecil. Orang-orang yang mengisi ruang bernama publik. Orang-orang yang sebenarnya dari publik itu sendiri. Orang-orang yang tak diberi tempat di ruang yang bernama publik.

Mereka disingkirkan. Mereka tak diberi ruang. Status nara sumber hanya sedikit memberinya tempat. Mereka tidak punya agenda setting. Apalagi untuk menyatakan permasalahannya sendiri. Soal-soal keseharian mereka cuma ada di kacamata elit-berita membuat sindrom: bad news ialah good news. Solusi persoalan mereka ada di tangan para pengamat, pemimpin partai, dan sedikit gosip “cek & ricek”.

Etika

Untuk itulah, dalam perkembangannya, jurnalisme mengembangkan persyaratan yang perlu ditambahkan (dan di-kode etik-an wartawan) dalam membuat berita. Hal ini terkait pula dengan fenomena kekerasan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Media harus melaporkan berbagai konflik yang terjadi di berbagai bangsa.

Jake Lynch menulis tentang Reporting the World: a practical checklist for the ethical reporting of conflicts in the 21st Century (2002). Ia memberikan beberapa unsur yang mesti dipenuhi dalam sebuah pemberitaan yang memiliki konflik sangat tinggi. Unsur-unsur ini diharapkan menjadi pertimbangan wartawan dalam menyiapkan, menyunting, membuat atau menulis berita tentang konflik.

Beberapa unsur pertimbangan itu, antara lain, adalah:

1. Bagaimana kekerasan harus dijelaskan?

§ Bagaimanakah menjelaskan secara bijak kekerasan tersebut ketika dilaporkan?

§ Apakah kekerasan itu langsung dilaporkan secara klasik “blow-by-blow”?

§ Atau, dengan memperlihatkan dampak kekerasan struktural dan kultural itu pada kehidupan orang-orang yang terlibat?

§ Apakah dijelaskan pula, secara sederhana, ihwal ketidakberfungsian, yang memproses terjadinya pengondisian kekerasan tersebut?

§ Apakah penjelasan itu juga menyimpulkan apa-apa yang sebenarnya atau mungkin terjadi nanti?

2. Seberapa tajamkah konflik yang terjadi?

§ Apakah konflik ini berada dalam kondisi “tarik-menarik kepentingan” pertarungan hidup – mati antara dua kelompok demi tujuan yang sama sehingga jika satu pihak menang, lainnya kalah?

§ Atau , seperti “ayunan kucing” (a 'cat's-cradle'): sebuah pola dimana banyak kelompok saling-tergantung kebutuhan dan kepentingannya, secara tumpah-tindih; atau berkemungkinan untuk diberikan solusi yang bersifat integral?

3. Adakah pemberitaannya menyisipkan pula upaya atau gagasan yang sifatnya menyelesaikan konflik?

§ Adakah di dalam liputan disiratkan rencana perdamaian, alternatif gagasan atau bayangan akan solusi?

§ Haruskah aspek-aspek berita ini menunggu sampai para pemimpin menghentikan “kesepakatan”?

§ Apakah liputan yang berisi tentang kesepakatan yang terjadi dapat membantu pembaca, atau khalayak, untuk ikut menangani penyebab kekerasan?

§ Apakah laporan menyebutkan orang-orang lain, selain para pemimpin dan petugasnya, ikut menangani penyelesaian konflik?

4. Apa peran “wartawan” dalam pemberitaan?

§ Apakah ada pesan tersurat, atau tersirat, tentang “pelbagai pihak yang merasa tidak OK selama kesepakatan belum tercapai”?

§ Adakah laporan menyarankan intervensi tengah dilakukan, sebelum kesepakatan dicapai?

§ Adakah pengujian terhadap pengaruh intervensi yang tengah dilakukan, dan hasilnya, pada perilaku orang-orang?

§ Apa dasar pertimbangan memilih suatu intervensi yang menyarankan suatu solusi, atau memilihnya dari beberapa macam intervensi?

Pelbagai unsur checklist ini diharapkan dapat membantu para wartawan, produser dan redaktur di dalam mengerangka pelaporan “konflik yang tengah dihadapinya. Juga, untuk mengukur emosi-diri dan kesiapan psikologis, selama meliput, agar dapat melakukan reportase secara efektif.****

Minggu, 27 Maret 2011

Perkembangan Jurnalisme

Sejarah

Sejarah menuturkan bahwa jurnalisme ialah alat penyuplai kebutuhan orang berkomunikasi. Komunikasi, sebagai alat penting bagi manusia, merupakan jalan bagi manusia bertukar informasi. Sejak masa prahistoris, komunikasi dilakukan melalui aneka cara: segala jenis informasi disebar melalui para dukun, peramal, orang bijak, dan sebagainya. Semuanya, menurut Aleksander Rozhkov (2001, Disertasi), seorang dosen sejarah Jurnalisme, dapat dilihat melalui lukisan batu, perkamen, atau bangunan.
Dengan begitu, komunikasi banyak berubah bentuk. Dari sejak awal kehidupan bermasyarakat, manusia mempergunakan berbagai medium untuk berkomunikasi.
Orang-orang kemudian memindahkan bahasa, sebagai alat mengantarkan pikiran dan perasaan itu, ke dalam catatan-catatan yang bersifat kronikal, riwayat, biografis, sejarah, perjalanan, dan berbagai bentuk surat-menyurat – dari yang bersifat pribadi sampai pesan-pesan kerja, dari yang menyajikan khotbah (nasihat) sampai kerjaan-omong kosong, mereka-ulang cerita, dan selebaran-selebaran.
Semua itu bisa ditemukan, misalnya, di fase-fase religiusitas menguasai masyarakat. Para ahli sejarah kerap memaparkan dokumen-dokumen catatan kronikal peristiwa, riwayat para penyebar keagamaan, atau kisah-kisah ketokohan seseorang. Di fase perdagangan mulai digerakan para raja, di wilayah-wilayah kerajaan yang menggunakan uang (sebagai pengganti barter), selebaran–selebaran (newsletter) dibuat untuk menginformasikan barang-barang, kedatangan kapal-kapal dagang yang berlabuh, dan harga-harga yang ditawarkan.
Sampai kemudian ketika jurnalisme ditemukan: sebagai sebuah kegiatan melaporkan berbagai kejadian/peristiwa yang terjadi di masyarakat. Namun, kemudian, dipakai sebagai alat penyalur tekanan sosial-politik. Dan, perkembangannya terkait dengan ditemukannya mesin cetak sebagai wahana yang mengganti oral, dari mulut ke mulut, ketika menyampaikan informasi (kisah-kisah kronikal, pelaporan, ataupun pamflet). Bentuk cetakan, khususnya suratkabar, merupakan awal dunia jurnalisme mengabarkan berbagai kejadian masyarakat.
Produk pertama jurnalistik, dalam bentuk newsheet, yang bersikulasi di Roma, dinamakan Acta Diurna. Harian yang terbit pada abad ke 5 Sebelum Masehi, yang digantungkan di alun-alun kota, ini merekam segala kejadian sosial dan politik.
Pada Abad Pertengahan, jurnalisme mengenali bentukan pengiriman laporan, tinjauan, perkabaran, dan lain-lain, yang diedarkan berbagai institusi untuk tujuan yang bersifat informatif. Fase ini dikenal sebagai masa peredaran sirkulasi flying papers. Ditemukannya proses cetak, yang mendorong mobilitas lebih jauh peredaran dan pengiriman informasi, oleh I.Guttenberg pada 1440, telah menancapkan pengembangan media cetak (pers) dan, tentu saja, jurnalisme. Eropa Barat, sebagai tanah kelahiran institusi sosial “mesin pers”, bisa dinilai sebagai wilayah awal pertumbuhan jurnalisme. Belgia, misalnya, menjadi tempat Niewe Tydingen (yang berarti "All news", atau kumpulan berita), suratkabar pertama diterbitkan melalui perusahaan cetak Vramma Vergevena, di Antwerp pada 1605.
Di berbagai tempat lain, dalam catatan ensiklopedi BRITANNICA (2000), terdapat pula. Di Jerman, kota-kotanya memunculkan berbagai terbitan cetak regular. Di Inggris, terbitan cetak pertamanya adalah Weekly Newes, pada 1622. Salah satu terbitan awal surat kabar hariannya ialah the Daily Courant, pada 11 Maret 1702.
Catatan sejarah juga menyebutkan embrio media jurnalistik cetak di kawasan Asia. Di Cina, pada sepanjang dinasti T’ang, di lingkungan istana, ada beredar media bernama pao, yang berarti “report” (laporan), yang melaporkan berbagai informasi di seputar pejabat pemerintahan. Sementara Rozhkov mencatat bahwa suratkabar yang terbit di lingkungan istana itu bernama Dibao, pada Abad VIII. Bentuk suratkabar muncul dan hilang, dengan berbagai nama dan bentuk, pada akhir dinasti Ch’ing, 1911. Selain Cina, di Jepang pun muncul. Dari lempengan tanah lempung, ditemukan nama Iomiori Kavaraban ("to read and to hand"). Semua itu, menurut Rozhkov, bisa dikatakan sebagai fenomena para-newspaper.
Pemunculan koran-koran cetak itu bukan tanpa halangan, atau tekanan. Sensor, pembatasan pemberitaan, dan beban pajak, adalah diantara beban yang diterakan kepada pengelolaan media. Namun, di tengah keadaan seperti itu, pada abad 18, berbagai terbitan jurnalisme awal tetap bermunculan. Misi yang diembannya ialah kebebasan berpendapat dan menyalurkan kebutuhan masyarakat. Awalnya, didesak oleh kebutuhan melek huruf masyarakat, namun sejalan dengan perkembangan mesin dan elektrik, sirkulasi harian koran meningkat dari jumlah ribuan dan ratusan ribu sampai jutaan eksemplar.
Bentuk majalah, terbit sejak abad 17, melalui bentuk-bentuk jurnal. Dimulai dengan berisi artikel-artikel opini yang mengomentari pelbagai kejadian aktual. Tatler (1709-11) dan Spectator (1711-12) adalah contoh awalnya. Tahun 1830-an, sirkulasinya melebar dan menyentuh khalayak berpendidikan, melalui majalah-majalah ilustratif dan wanita.
Pendanaan yang besar untuk pengumpulan berita diawali melalui format kantor berita, sebuah organisasi yang menampuk liputan-liputan jurnalistik internasional dan menjualnya kepada berbagai koran dan majalah. Pemunculan radio dan televisi, pada abad 20, telah meluaskan segala komunikasi cetak dan elektronik ke dalam produk jurnalistik. Penemuan telegraf dan kemudian radio dan televisi menyempurnakan kecepatan dan ketepatan aktifitas jurnalistik. Pada waktu yang bersamaan, khalayak mendapat saluran dan distribusi muatan berita yang masif. Satelit abad 20 telah membuat pengiriman informasi jurnalistik memiliki jarak tempuh yang lebih panjang.
Dan kini kita mengenali kegiatan jurnalistik mengumpulkan, menyiapkan, dan mengedarkan berbagai berita atau opini melalui pamflet, newsleter, koran, majalah, radio, filem, televisi, internet, dan buku.
Walaupun esensi jurnalisme itu ialah berita, namun dalam perkembangannya telah mendapatkan banyak pemaknaan. Istilah “hard news” tidak lagi mengartikan “news value” yang amat penting. Ia telah jadi marginal. Ini sebagian besar merupakan konsekwensi dari kedatangan pemberitaan radio dan televisi, yang membawa buletin berita kepada orang banyak dengan kecepatan yang tak dapat ditandingi oleh media pers. Untuk menjaga khalayaknya, surat kabar telah meningkatkan jumlah penyajian interpretive material – berbagai artikel yang melatarbelakangi sebuah pemberitaan, ulasan-ulasan pendek, dan kolumnis yang dengan ketepatan dan kepiawaiannya mengomentari. Pada pertengahan 1960, banyak suratkabar, terutama yang terbit sore dan edisi Minggu, telah memakai teknik penyajian majalah, terkecuali untuk isi “hard news” dengan keketatan aturan obyektifitas-ketradisionalannya. Majalah-majalah berita telah membuat pemberitaan mereka berdarah-darah dengan komentar-komentar editorial.
Jurnalisme memang punya keliaran dinamika dalam perkembangannya. Dekade post-PD II diantaranya menggambarkan pergulatan jurnalisme dengan pelbagai laporan dan analisa kampanye pemilihan, skandal-skandal politik, hubungan- hubungan gelap, dan temuan “New Journalism” melalui penulis seperti Truman Capote, Tom Wolfe, dan Norman Mailer.
Abad 20 telah mengisahkan bagaimana penolakan jurnalisme terhadap pembatasan yang dilakukan pemerintah. Di negara-negara berpemerintahan Komunis, pers dimiliki oleh negara, para wartawan dan pemimpin redaksinya menjadi pegawai pemerintah. Di bawah sistem pers mereka, fungsi utama pers ialah melaporkan pemberitaan bercampur tugas mengangkat dan mendukung ideologi nasional serta tujuan-tujuan yang dikehendakinya. Media jadi pemapar prestasi pemerintahan Komunis, dan meniadakan pelaporan yang memburukkan kekuasaan. Berbagai sensor terhadap kerja jurnalisme menjadi bagian dari kehidupan di negara-negara Komunis.
Di negara-negara berkembang (developing nations) yang non-komunis, pers menikmati derajat kebebasan yang bermacam ragam, dari yang bersifat mesti mau melakukan self-censorhip (menyensor sendiri) apa-apa yang sekira bakal dilarang pemerintah, sampai yang benar-benar disensor langsung seperti di negara-negara Komunis. Kebebasan pers benar-benar dinikmati benar untuk media yang hidup di negara-negara yang berbahasa laporan most English-speaking dan negara-negara Eropa barat.


Elemen Jurnalisme Masa Kini

Good journalism, kata Leonard Downie JR. dan Robert G.Kaiser dalam The News About The News (2002), ialah kegiatan dan produk jurnalistik yang dapat mengajak kebersamaan masyarakat di saat krisis. Pelbagai informasi dan gambaran krisis, yang terjadi dan disampaikan, mesti menjadi pengalaman bersama. Ketika sebuah kejadian yang merugikan masyarakat terjadi, sebuah media memberi sesuatu yang dapat dipegang oleh masyarakat. Sesuatu itu ialah fakta-fakta, juga penjelasan dan ruang diskusi, yang menolong banyak orang terhadap sesuatu yang tak terduga kejadiannya.
Masyarakat diajak agresif pada sesuatu yang penting terjadi. Dari soal pendidikan, jalanan berlubang, perumahan kebanjiran, pelayanan pemerintah dan keadilan, dan lain-lain, masyarakat diajak paham dan terlibat. Pemberitaan ketidakbecusan dan korupsi di pemerintah dan parlemen dapat mengubah kebijakan yang semula merugikan rakyat, menyelamatkan uang para pembayar pajak dan APBD, serta mengakhiri kebejatan para pelayan dan wakil rakyat. Pemberitaan praktik bisnis kotor menyelamatkan uang konsumen dan keamanan rakyat. Pemberitaan lingkungan, kesehatan, makanan, dan produk-produk yang berbahaya menyelamatkan kehidupan rakyat. Peliputan soal kemiskinan, gelandangan, ketidakadilan, penderitaan, dan seterusnya, memberi "suara" pada pihak yang tak bisa "bersuara".
Bad journalism ialah media yang kurang cakap melaporkan pemberitaan yang penting diketahui masyarakat. Media yang memberitakan suatu peristiwa secara dangkal, sembrono, dan tidak lengkap, sering disebut tidak akurat dan tidak cover both sides. Ini berbahaya bagi masyarakat karena ketidaklengkapan informasi yang didapatnya. Ketidakcakapan pemberitaan manipulasi dan korupsi perbankan telah mengakibatkan pingsannya industri serta dirugikannya para depositor dan pembayar pajak dalam hitungan ratusan miliar rupiah.
Semua dikarenakan kemalasan meliput dan kedangkalan pelaporan. Kerja media cuma mengisi kolom demi kolom dengan hal-hal yang "halus dan sepele", enggan berurusan dengan hal-hal "penting dan penuh pertempuran", lebih banyak menimba fakta-fakta yang sudah "siap edar" dari nara sumber yang sudah rutin dan formal dan "siap wawancara". Lalu, bersama-sama kameraman teve, membuat dramatisasi penangkapan yang penuh dengan teriakan dan letusan senjata. Atau, ke sana-kemari di ruang pengadilan, mencari peristiwa yang sudah siap dinilaiberitakan.
Semua itu, menurut Downie J.R. dan Kaiser, "bukanlah hal yang baru, atau faktual, atau interesting, atau penting untuk diberi label news".
Dari sinilah, terjadi bias. Berita yang diterima masyarakat kerap disensor secara invisible. Entah itu terkait dengan ketidakcakapan wartawan, entah dengan visi redaksi, entah pula dengan kesejahteraan dan keselamatan bisnis media.
Meski berbagai asumsi itu tidak sahih benar, setidaknya masih melogikakan cacatnya pemberitaan. Buruknya pemberitaan media menyebabkan ketidaktahuan masyarakat. Ketidaktahuan masyarakat mengakibatkan kerugian.

Kerugian itu harus dihindari.

Bill Kovach & Tom Rosenstiel, dalam The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (2001) merumuskan sembilan elemen jurnalisme. Berbagai elemen ini merupakan dasar jurnalisme agar bisa dipercaya masyarakat. “The purpose of journalisme,” nilai Kovach dan Rosenstiel (hlm.17-19), “is to provide people with the information they need to be free and self-governing”. Kebajikan utama jurnalisme ialah menyampaikan informasi yang dibutuhkan masyarakat hinggar mereka leluasa dan mampu mengatur dirinya. Jurnalisme membantu masyarakat mengenali komunitasnya. Jurnalisme, dari realitas yang dilaporkannya, menciptakan bahasa bersama dan pengetahuan bersama. Lewat jurnalisme, masyarakat mengenai harapannya, siapa yang menjadi pahlawan dan siapa penjahatnya. Media jurnalisme menjadi wacthdog, anjing penjaga, berbagai peristiwa yang baik dan buruk, dan mengangkat aspirasi yang luput dari telinga orang banyak. Semua itu terjadi berdasar informasi yang sama. Informasi itu disampaikan jurnalisme kepada masyarakat.
Untuk itu, jurnalisme memiliki tugas:

1. Menyampaikan kebenaran
2. Memiliki loyalitas kepada masyarakat
3. Memiliki disiplin untuk melakukan verifikasi
4. Memiliki kemandidiran terhadap apa yang diliputnya
5. Memiliki kemandidiran untuk memantau kekuasaan
6. Menyadi forum bagi kritik dan kesepakatan publik
7. Menyampaikan sesuatu secara menarik dan relevan kepada publik
8. Membuat berita secara komprehensif dan proporsional
9. Meleluasakan wartawan untuk mengikuti nurani mereka
(Kovach dan Rosenstiel, hlm: 12-13)

Elemen jurnalisme yang pertama, menurut Kovach dan Rosenstiel (hlm.36-50) adalah kebenaran.
Cassandra Tate, pada 1984, menceritakan kebohongan media yang dilakukan wartawan New York World. Koran kuning milik Joseph Joseph Pulitzer, pada 1913, mendirikan Burreau of Accuracy and Fair Play, yang bertugas sebagai ombudsman di harian New York World. Tujuan: meyakinkan pembaca bahwa World layak dipercaya. Salah satu laporan ombudsman harian ini ialah menceritakan keanehan pola laporan berita tentang kapal karam: kisah-kisah feature-nya selalu memunculkan seekor kucing. Apa ada hubungan antara kucing dengan kapal karam? Si wartawan yang meliput berita tersebut menjelaskan.
Ketika sebuah kapal karam, wartawan itu menemukan kisah seekor kucing yang diselamatkan para awak kapal. Kisah kucing ini diceritakannya. Sementara, rekan-rekan wartawannya yang lain tak mengangkatnya. Akibatnya, mereka banyak disemprot oleh para redakturnya. Mereka dinilai gagal. Tatkala terjadi lagi peristiwa kapal karam, mereka pun menyisipkan seekor kucing di dalam kisahnya. Padahal, tidak ada kucing di kapal tersebut. Si wartawan Wordl tidak mau ikut-ikutan, ia tidak menyertakan kucing di dalam laporannya. Dan, kini, ia yang dicaci maki redakturnya. Maka itu, selanjutnya, bila ia dan kawan-kawan wartawannya menemukan kejadian kapal karam, mereka pasti menyantumkan kucing mengeong-ngeong di dalam laporan beritanya. Ini contoh jurnalisme yang tidak menyampaikan kebenaran.
Tapi, kebenaran yang dimaksud di sini ialah kebenaran fungsional. Bukanlah kebenaran yang banyak dicari orang-orang filsafat. Bukanlah kebenaran mutlak, apalagi kebenaran Tuhan. Kebenaran fungsional berarti kebenaran yang terus-menerus dicari. Kebenaran mengenai, misalnya, harga bahan-bahan pokok saat ini, nilai kurs mata uang, atau hasil pertandingan olah raga.
Jurnalisme melaporkan materi “kebenaran” apa yang dapat dipercaya dan dimanfaatkan masyarakat pada saat ini. Berbekal kebenaran tersebut, masyarakat belajar dan berpikir mengenai segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Apakah besok akan hujan? Apa di sana ada kemacetan lalu lintas? Apa tim olah raga saya menang? Apa yang ditegaskan presiden? Dengan demikian, jurnalisme menyampaikan kebenaran tentang fakta-fakta yang ditemukannya saat itu. Fakta-fakta yang dilaporkan secara akurat dan jujur.
Tapi, apakah memadai, sekadar melaporkan nama dan tanggal secara akurat? Apakah cukup melaporkan walikota memuji-muji polisi di sebuah acara, sementara dalam faktanya, polisi terlibat dalam skandal korupsi. Pujian walikota berarti merupakan retorika politik terhadap kritikan masyarakat tentan kinerja polisi. Meski begitu, hal itu bukanlah bearti akurasi tidak penting. Akurasi tetaplah menjadi hal yang penting bagi jurnalisme, menjadi fondasi bagi pengembangan berita selanjutnya – yang terkait dengan: konteks, interpretasi, dan hipotesis, dan lainnya.
Kebenaran di sini bukanlah kebenaran yang bersifat religius, ideologis, atau pun filsafat. Juga, tidak menyangkut kebenaran berdasar pandangan seseorang. Sebab, pemberitaan seorang wartawan bisa memiliki bias. Latar belakang sosial, pendidikan, kewarganegaraan, kelompok etnik, atau agama, yang dianut wartawan mempengaruhi laporan berita yang dibuatnya. Wartawan berkemungkinan menafsirkan “kebenaran” sebuah fakta secara berbeda-beda satu-sama lainya.
Di hari pertama peristiwa kecelakaan dilaporkan, contoh Kovach dan Rosenstiel , wartawan menunjukan: waktu dan tempat, kondisi dan cuaca saat itu, jenis kendaraan, kerusakan, dan sebagainya. Hari selanjutnya, ialah laporan hasil verifikasi fakta: memaknakan peristiwa tersebut, melalui pelabagai fakta lain yang terkait dengannya. Ini berarti: kebenaran jurnalisme ialah upaya menyapih fakta-fakta dari kekeliruan informasi – entah disengaja atau tidak oleh pihak-pihak tertentu – atau dari kekosongan informasi. Wartawan mesti menyingkirkan fakta yang bersifat desas-desus, tidak penting, atau dimanipulir. Menekankan apa-apa yang penting, dan membuang informasi sampah.

Elemen kedua ialah loyalitas kepada masyarakat. Ini memaknakan keindependenan jurnalisme. Ini berarti membuat resensi filem yang jujur (bukan pesanan), mengulas liputan tempat rekreasi yang tidak dipengaruhi para pemasang iklan, atau membuat liputan yang tidak didasari kepentingan pribadi atau kepentingan relasi tertentu. Selain itu, pemberitaan disampaikan juga tidak dibayang-bayangi kepentingan bisnis dari pemilik media.
Misalnya, rencana bisnis media merancang target khalayak untuk kalangan sosial tertentu. Kalangan ini dinilai yang paling banyak mempengaruhi publik. Menargetkan berita seperti ini bisa dikatakan mengabaikan kelompok masyarakat lainnya, hanya untuk mengejar kelompok khalayak yang mengundang pemasang iklan potensial.
Para jurnalis tidak bekerja atas kepentingan pelanggan. Para jurnalis bekerja atas komitmen, keberanian, nilai yang diyakini, sikap, kewenangan, dan profesionalisme, yang telah diakui publik.

Elemen ketiga ialah disiplin dalam melakukan verifikasi. Ini berarti kegiatan menelusuri sekian saksi untuk sebuah peristiwa, mencari sekian banyak nara sumber, dan mengungkap sekian banyak komentar. Verifikasi juga berarti memilah jurnalisme dari hiburan, propaganda, fiksi, dan seni. Hiburan (dan infotainment) tertuju pada hal-hal yang menyenangkan semata. Propaganda mengerangka fakta (persuasi dan manipulasi) demi kepentingan tertentu. Fiksi memokus kesan personalitas pengarang. Jurnalisme ialah melaporkan segala apa yang terjadi setepat mungkin.
Kovach dan Rosenstiel menawarkan lima konsep dalam verifikasi:

• Jangan menambah atau mengarang apa pun;
• Jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar;
• Bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi Anda dalam melakukan reportase;
• Bersandarlah terutama pada reportase Anda sendiri;
• Bersikaplah rendah hati.

Elemen keempat: kemandirian terhadap apa yang diliputnya. Ini berarti tidak menjadi konsultan “diam-diam”, penulis pidato, atau mendapat uang dari pihak-pihak yang diliput. Arti lainnya lagi, menunjukan kredibilitas kepada berbagai pihak, melalui dedikasi terhadap akurasi, verifikasi, dan kepentingan publik. Atau, kemandirian melakukan kegiatan jurnalisme dengan ketaatan dan penghormatan yang tinggi pada prinsip kejujuran, kesetiaan pada rakyat, serta kewajiban memberi informasi dan bukan manipulasi. Bekerja atas dasar kesetiaan yang tinggi terhadap jurnalisme.
Dalam contoh tertentu, kemandirian ini bisa diartikan dengan sungguh-sungguh mengenali khalayak berita, benar-benar memberi perhatian kepada mereka secara merata: dari atas ke bawah, dari kiri ke kanan, dari segala tingkatan ekonomi. Tidak membedakan agama (Kristen, Islam, Hindu, Buddha, dan lainnya). Tidak melihat ideologi (liberal, sosialis, marxis, dan sebagainya). Tidak melihat warna ras (kulit putih, keturunan Asia, Afrika, Hispanik, dan sebagainya). Tidak melihat pula jenis kelamin (laki atau perempuan), atau cacat-tidaknya seseorang. Sebab, kemandirian di sini menegaskan bahwa ia pertama-tama dikenali orang sebagai jurnalis. Bbukan orang Cina, orang Kristen, orang cacat, atau lainnya.

Elemen kelima adalah kemandirian untuk memantau kekuasaan. Elemen ini bukan berarti pekerjaan wartawan itu mengganggu orang yang tengah berbahagia, dengan berita-berita buruk. Bukan menunggangi keburukan masyarakat. Juga, bukan memerankan wacthdog dengan tujuan melaporkan sesuatu yang selalu sensasional daripada melayani masyarakat. Apalagi, mengatasnamakan wacthdog untuk kepentingan bisnis media.
Elemen ini terkait dengan kegiatan investigatif pers. Kegiatan media melaporkan berbagai pelanggaran, kasus, atau kejahatan yang dilakukan pihak-pihak tertentu, baik pihak pemerintah atau pun lembaga-lembaga yang kuat di masyarakat. Laporan pers, dengan demikian, mencegah para pemimpin pemerintahan, politik, organisasi publik, dan lainnya, agar tidak melakukan sesuatu yang tidak semestinya dikerjakan. Media mengungkapkan tuntutan masyarakat akan perbaikan di berbagai bidang kehidupan dan berbagai tingkatan sosial, seperti: kekuasaan yang korup atau kolutif atau nepotis, penganiayaan buruh, kejahatan terorganisir di kota-kota, bisnis-bisnis kotor, dan sebagainya.

Elemen keenam ialah meletakan jurnalisme sebagai forum bagi kritik dan kesepakatan publik. Elemen ini merupakan upaya media menyediakan ruang kritik dan kompromi kepada publik. Ketika sebuah berita dilaporkan, media berarti mengingatkan masyarakat akan terjadinya sesuatu. Selain berita, media juga menyediakan ruang analisi untuk membahas peristiwa tersebut melalui konteks, perbandingan, atau perspektif tertentu. Ditambah pula, ruang opini dan editorial untuk mengevaluasi segala hal yang berkaitan dengan peristiwa tersebut, baik yang disampaikan oleh redaksi media maupun artikel (atau komentar atau surat pembaca) yang berisikan opini pribadi dari masyarakat sendiri – atau berupa telepon dari pemirsa, talkshow atau acara bincang-bincang di televisi.
Semua itu diharapkan menjadi forum yang dapat mendorong masyarakat untuk membuat penilaian dan mengambil sikap. Dalam arti, forum tersebut mesti menyertakan ruang bagi kesepakatan, yang diyakini oleh sebagian besar masyarakat, sebagai jalan keluar dari permasalahan yang berkembang. Forum ini, tentu saja, berlangsung berdasar penghargaan terhadap fakta, keadilan, dan tanggun jawab. Bukan berdasar hal-hal yang bisa menjual atau dijual, pelintiran informasi dari kepentingan pihak-pihak yang ingin memenangkan perkara dengan cara manipulatif, atau berdasar siapa yang paling kuat dalam mempengaruhi media atau khalayak atau kecakapan retorik.
“Jurnalisme tidak saja memiliki kewajiban untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman yang diperlukan masyarakat, tetapi juga memberikan sebuah forum kepada masyarakat untuk membangun ikatan yang mengembangkan masyarakat,” nilai Kovach dan Rosenstiel .

Elemen ketujuh, jurnalisme harus dapat menyampaikan sesuatu secara menarik dan relevan kepada publik. Elemen ini mewajibkan media untuk melaporkan berita dengan cara yang menyenangkan, mengasyikan, dan menyentuh sensasi masyarakat. Ditambah pula, yang dilaporkannya itu mesti merupakan sesuatu yang paling penting dan bermanfaat bagi masyarakat. Jadi, berita itu harus bisa menarik dan berguna bagi masyarakat. Koran Daily News di New York, menurut Kovach dan Rosenstiel , bukan saja memiliki kemenarikan di dalam melaporkan olah raga, foto-foto yang enak dilihat, dan gosip-gosip yang tengah beredar, akan tetapi juga memiliki etos habis-habisan untuk melaporkan ketidakadilan dan kegagalan program pemerintah kepada masyarakat. Dengan kata lain, media harus mampu menggabungkan kemampuan mendongeng dengan memberi informasi kepada masyarakat.
Cara mendongeng jurnalisti memiliki tujuan. Tujuan utamanya ialah memberi informasi yang dibutuhkan masyarakat tentang lingkungannya. Maka itulah, media menugaskan para awak redaksinya untuk mencari, menemukan, mencatat informasi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat pada saat itu agar dapat mengembangkan kehidupan bermasyarakat dengan baik. Setelah itu, ialah melaporkannya menjadi materi informasi yang bermakna, relevan, dan menarik diikuti.
Karena itulah, tanggung jawab media bukan hanya memasok informasi kepada masyarakat, akan tetapi juga menyampaikannya dengan cara yang menarik. Pelaporan berita yang baik ialah hasil kemendalaman liputan yang padu dalam memberi rincian dan keterkaitannya dengan konteks tertentu.

Elemen kedelapan adalah kewajiban membuat berita secara komprehensif dan proporsional. Mutu jurnalisme amat tergantung kepada kelengkapan dan proporsionalitas pemberitaan yang dikerjakan media. Elemen ini mengingatkan media agar tidak jor-jor-an meliput sensasi acara pengadilan atau skandal selebritas secara jor-jor-an, berlebihan, hanya untuk tujuan menaikan rating, oplah, atau iklan. Apalagi, melaporkannya dengan tidak melakukan verifikasi, pengecekan silang, atau wawancara ke berbagai pihak terkait. Pemberitaan macam ini akan menyesatkan pembaca.
Di sisi lain, komprehensif dan proporsional juga berarti penyajian berita. Sebuah siaran berita yang hanya berisi kelucuan yang menarik juga harus dilengkapi dengan kandungan materi yang penting dan berguna. Demikian pun bagi berita yang serius dan teramat penting isinya hendaknya disertai dengan hal-hal yang ringan, human interest.
Media harus menghindari khalayaknya menjadi miskin informasi disebabkan isi pemberitaan yang tidak lengkap materinya dan menonjolkan sesuatu secara tidak proporsional. Hal ini merugikan masyarakat di dalam mengambil keputusan yang dibutuhkan pada saat itu.

Elemen ke sembilan ialah memberi keleluasaan wartawan untuk mengikuti nurani mereka. Ini terkait dengan sistem dan manajemen media yang memiliki keterbukaan. Keterbukaan ini berguna untuk mengatasi kesulitan dan tekanan wartawan dalam membuat berita secara akurat, adil, imbang, independen, berani, dan bertanggung jawab kepada masyarakat. Media harus memberi ruang bagi wartawan untuk merasa bebas berpikir dan berpendapat.
Organisasi berita yang baik memberikan peluang bagi wartawan untuk menyatakan perbedaan sikap dan pendapat, melakukan penolakan terhadap redaktur, pemilik media, pemasang iklan, bahkan kekuatan tertentu di masyarakat – selama hal itu terkait dengan prinsip kejujuran dan akurasi yang dipegang oleh wartawan. Ini berarti mengembangkan budaya media yang melindungi tanggung jawab pribadi sebagai dasar kerja. “Memberikan peluang kepada orang-orang untuk menyuarakan nurani mereka dalam redaksi memang akan membuat pengelolaan media jadi makin menyulitkan. Namun, hal itu dapat membuat pemberitaan jadi semakin akurat,” nilai Kovach dan Rosenstiel.***

Selasa, 01 Maret 2011

Menyimak Jurnalisme dari Komik Lucky Luke

Di sebuah negeri cowboy yang berantakan, sebuah koran terbit dengan gagah berani. Namanya, Daily Star. Koran ini punya tugas maha penting. Hal itu terlihat dari visinya: misionaris informasi. Kegagahannya terlihat dari pengelolanya. Susunan redaksinya terdiri dari pemimpin redaksi yang dipegang oleh orang bernama Horace P. Greely. Ia begitu berani karena selain menjabat pemimpin redaksi, ia sekaligus pula memegang jabatan: Direktur, Editor, Bendahara, Iklan, sampai Percetakan. Semuanya diborong.
Koran ini terbit melalui mesin cetak berkaki tiga, dengan satu pelat press yang dipuntir. Namanya gagah: Washington Imperial Nomor 3.
Daily Star memang gagah berani. Salah satu cirinya: berita-beritanya sering bikin jengkel. Koran dan pemilik dan mesin cetaknya membuat berang banyak orang. Dengan kesudahan, ketiganya menjadi korban amuk massa. Pengelolanya babak-belur disiksa tak habis-habis. Korannya diinjak-injak bagai kotoran. Bahkan, mesin cetaknya dibolak-balik, digusur, dibanting bagai mainan anak-anak yang sudah rampung masa tugasnya lalu ditendang begitu saja ke halaman.
Tapi, pemimpin redaksinya tak pernah susut semangatnya. Greely adalah manusia berkepala batu granit. Ia tak lekang oleh sumpah serapah tak lapuk oleh siksa. Kisah pedihnya malah ia beritakan, mengikuti garis visi perjuangan jadi “misionaris informasi”, lewat misalnya berita model begini:

"Haruskah kita berterus terang kepada pembaca?

Koresponden kita yang simpatik di pusat bagian Barat yang biadab ini, Horace P. Greely lagi-lagi menjadi korban di dalam misi wartawannya. Setelah dilumuri oli dan diguling-gulingkan ditumpukan bulu di Nothing Gulch City (1), direndam di dalam tetes dan diumpankan pada semut pemakan daging di Coyote Creek (2), dipaksa minum bir yang dicampur di Thirsty Town (3), hari ini ia telah mengalami goncangan yang paling menakutkan: di depan matanya, para penjahat telah menceburkan teman pribadinya, Washington Imperial Nomor 3, di Quiet River yang deras airnya .... "


Cerita ini merupakan penggalan kisah Lucky Luke menemani dunia kerja kewartawanan. Dalam komik yang diceritakan X.Fauche Moris & J.Leturgie ini, Lucky Luke bertualang dalam kisah berjudul Daily Star (1984, terjemahan Indonesia:1989). Horace P.Greely adalah sosok legenda bagi dunia pers Amerika di awal-awal tumbuhnya. Koran Daily Star ialah koran yang banyak dicatat sejarah pers AS.
Moris & Leturgie kemudian mempertemukan wartawan Horace P.Greely dengan cowboy Lucky Luke. Konon, menurut dongeng komik ini, penderitaan akhirnya Greely akhirnya berbuah. Ini dikarenakan Greely bertemu dengan seorang koboi jago tembak – yang kecepatan menembaknya melebihi bayangannya sendiri. Koboi itu bernama Lucky Luke. Seorang pahlawan western yang peduli dengan segala luka orang-orang tertindas. Ia selalu menjaga keadilan melalui pistol + tampangnya (yang cuek) + kuda-putihnya (yang jadi karibnya). Ia menjadi pahlawan di banyak tempat.
“Sungguh mujur seorang wartawan mengadakan perjalanan dengan seorang yang terkenal,” seru Greely di atas kereta kuda yang mengangkut mesin cetak. Greely dan Luke jalan beriringan.
Greely dengan suka cita menawari Luke pekerjaan: membantu Daily Star jadi Kekuatan Keempat. Artinya, jadi “kekuatan” tertentu di tengah para koboi setelah “mulut”, “pistol”, dan “serif”. Dunia cowboy adalah dunia yang alpa terhadap hukum, pemerintah, atau rapat parlemen. Tiap ada soal diselesaikan selekas-lekasnya – dengan cara yang seksama, pertama-tama dengan adu mulut. Bila tidak usai, yang kedua, lewat adu jotos dan senjata. Jika masih runyam, yang ketiga, lewat lencana serif – sebagai komandan para koboi yang disegani, dalam mengatur hidup para koboi. Dari kesemuanya, yang pasti, yang namanya letusan senjata seolah jadi ketukan palu hukum “siapa cepat dia berkuasa”.
Ajakan Greely menunjukan butuhnya pejuang lain selain keberanian melaporkan informasi yang buruk-buruk.
“Yaap!” Jawab Lucky Luke cuek, di atas kuda putihnya.
Keduanya berjalan menuju kota Dead end City. Di kota inilah, cuplikan kisah jurnalisme coba ditengok. Berbagai adegan komiknya mencerminkan dasar-dasar jurnalistik dijelaskan.
Misalnya ini:
Sesampainya Greely dan Luke di kota Dead end City, terjadi peristiwa yang tidak biasa ditemui penduduknya. Kisah bermula di tempat minum yang bernama saloon Dead end Gulch. Tempat yang biasanya bersuasana tentram tiba-tiba dikagetkan dengan sesuatu yang muncul dari pintu saloon.
“Hebat! Daily Star memilih Dead end City! Direkturnya menjelaskan!” Suara keras Greely muncul membuka pintu gantung sambil membawa tumpukan koran. Semua orang bingung.
“Berita khusus, jadwal ibadah!” Greely menawarkan pada dua tamu. Keduanya langsung tersedak, menyemburkan minuman beralkohol ke atas meja.
“Salinan lengkap khotbah pendeta....”
“Huh! Orang alim!” Seru salah satu pemain kartu sembari menendang pantat Greely. Matanya melotot. Wajahnya yang berjenggot tebal terlihat gusar.
“Daily Star! Berita kelahiran!” Seru Greely pada sesosok tua bertopi tinggi berhidung bengkok berdagu runcing. Sosok tua ini ialah penjual peti mati. Maka itu, mendengar teriakan Greely, penjual peti mati ini hanya melirik sedikit. Tatapannya dingin. Di meja tempat ia duduk, bersandar sekop penggali kubur.
“Bagaimana membuat apel goreng yang berhasil!” Kali ini teriakan Greely tertuju pada empat pemain kartu yang tengah khusuk memenangkan tumpukan uang kertas dan gemerincing uang logam yang berserakan di tengah meja.
Salah seorang cuma menggeserkan lehernya sedikit ke muka Greely. Satunya lagi, dengan cerutu di mulut, menatap tak acuh. Mata keduanya seperti tertutup. Dua orang lainnya tetap melihat kartu di meja. “Empat As!” Cetus salah satunya.
Greely putus asa. Menyimpan tumpukan koran yang belum terjual satu pun ke atas meja bartender.
“Sini, Greely, kasih aku satu!” Kata Lucky Luke, yang tengah duduk minum.
“Tanpamu, aku akan putus asa!” Greely berkata sambil menenggak minuman.
“Kau harus bicara tentang hal yang menarik minat mereka....” Jawab Luke cuek. Matanya membaca koran.
“Puah!” Greely memuntahkan air di mulutnya.
“...mutu minuman itu, misalnya!” Contoh Luke.
“Kau benar, whiskinya asam. Harus diselidiki!” Lanjut Greely.
Lalu terdengar suara Greely bertubi-tubi memesan minum.
“Satu bourbon, satu gin, satu bir, satu kiss-me quick, satu rhum, satu abshinte, satu arak, satu pick-me-up, satu jeruk soda, satu sherry, satu brandy, satu honey moon, satu teh cina asap, satu scoth, Vermouth-adas....”
Memenuhi pesanan bertubi-tubi itu, bartender jadi sibuk bukan main. Tangannya kesana-kemari mencari, mengucurkan, menyediakan minuman yang diminta. Wajahnya confuse.... Kedua matanya bertanya-tanya. Mukanya bergoyang ke kiri dan ke kanan. ”Ini mau mentraktir?” pikirnya, linglung.
Luke pun terhenyak. Topinya sampai terangkat beberapa senti dari kepalanya. Ia menatap Greely, tidak percaya. Ada tanda seru bercampur heran di wajahnya.
Tak berapa lama, Greely terlihat keluar dari saloon Dead end Gulch. Langkahnya zig-zag. Ia berjalan sempoyongan. Mulutnya senyam-senyum. Kepalanya terlihat dipenuhi bintang-bintang yang berputar-putar di atasnya. Ia puyeng.
Tapi, ada yang aneh. Sembari berjalan, dari mulutnya, tak henti-henti memuncratkan kata-kata, omongan yang tidak biasa diucapkan pemabuk. Ia tidak mengungkapkan rengekan, atau caci-maki, atau kalimat terpatah-patah dalam gumam yang tak jelas. Ia lebih banyak menceracaukan kalimat-kalimat yang mengandung fakta-fakta. Kebenaran menyeruak dari lontaran kata-katanya. Hanya nada, irama, dan gaya omong, sembari berjalan oleng, yang menunjukan ia memang mabuk berat. Bunyi sendawa, cegukan demi cegukan, di tiap akhir kalimat, selalu menyertai segala kalimat yang diungkapkannya. Misalnya:
“Mutu rendah dibanding harga, hips....Jeruk dipalsu, hips....Tehnya bukan dari Cina tapi dari Ceylon, hips....Terlalu banyak bloody dalam mary....’
Sementara itu, di dalam saloon, suasana terpusat pada raut kebahagiaan bartender. Rautnya bukan buatan renyahnya. Terus-menerus ia membayangkan kejadian barusan. Begitu banyak pesanan minuman mengalir. Ia seperti merasakan kentungan yang melimpah bakal berdatangan ke dalam saloon-nya. Sungguh.
Ia merasa mendapat pelanggan yang penuh cinta. Dengan perasaan enteng, ia membereskan minuman yang berkali-kali dipesan Greely. Cerah, berkata ia kepada Luke.
“Jika semua langganan seperti dia, saloonku akan laku keras nanti!”
Di tengah perasaan yang berbinar-binar itu, ia tidak sadar dari pintu masuk saloon-nya muncul kesulitan. Ia seperti tak percaya, ada kegilaan yang bisa muncul dari pintu saloon-nya.
Ini bukan letusan pelor. Baku hantam? Juga bukan. Adu omong, sampai urat leher menyendol bergurat-gurat, juga bukan. Lalu?
Muncul teriakan dari pintu gantung yang terbuka. Teriakan itu teriakan tukang koran yang memberitakan apa isi koran yang dijualnya kali ini. Teriakan itu muncul dari suara orang yang sebelumnya memesan minuman bertubi-tubi pada bartender. Suara itu suara Greely. Suara itu berteriak dengan lantang:
“BOIKOT SALOON INI!”
Ini bukan suara yang biasa ada di masyarakat Dead and Gulch. Suara macam ini tak pernah terdengar. Suara teriakan macam itu adalah suara yang menggugat. Bukan celotehan yang biasa muncrat dari bibir para cowboy.
Teriakan para cowboy adalah teriakan yang bermusuhan. Mereka berteriak-teriak untuk menyalurkan hasrat menembak habis musuh di depan yang tidak mau berhenti melawan. Teriakan Greely adalah teriakan wartawan. Teriakan yang ingin memaparkan pada masyarakat bahwa ada sesuatu yang terjadi. Memang seperti mangajak. Memang seperti memerintah. Tapi, perintah yang tidak mengandung peluru. Teriakan ini lebih berbahaya daripada teriakan yang mengandung bunyi desing senapan yang menyalak.
Sebab, teriakan wartawan adalah suara nurani yang melihat kebenaran berdasarkan fakta-fakta yang bukan fuck you. Artinya, tidak ada keinginan melecehkan hidup manusia. Teriakan wartawan mengandung niat bahwa hidup masyarakat harus dibela berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab. Artinya, tidak ada kekuatan yang untuk sekedar memuaskan nafsu jagoan.
Itu berarti, teriakan Greely lebih bisa dipercaya. Jika bisa dipercaya, maka teriakan Greely bisa menghancurkan usaha Sang Bartender.
KLING! C-KLING....Suara gelas pecah terdengar....Muncul dari meja panjang bartender. Gelas itu jatuh dari tangan bartender yang seperti kena setrum. Bartender itu kaget bukan kepalang. Dari teriakan Greely itu kemudian bersusulan muncul suara-suara kebenaran.
“MINUMAN ANDA DIPALSU, INI HASIL PENELITIAN DAILY STAR!” Teriak Greely memecah ruang. Teriakan itu dibawakannya sembari memutari saloon. Sembari mengacung-acungkan korannya, Greely mendekati tiga cowboy yang tengah minum. Greely menyodorkan berita terbaru dari korannya. Greely menunjukan hasil reportasenya. Greely membuktkan temuannya yang didapat sampai ia harus berjalan sempoyongan, setelah mencicipi langsung minuman palsu di segala jenisnya.
Salah seorang cowboy tiba-tiba menyemburkan setegukan minuman dari mulutnya ke lantai demi mendengar penipuan telah terjadi di alkohol pesanannya. Bukan hanya itu. Dua Koboi lainnya bergerak pula. Mereka tersentak, ingin tahu apa yang terjadi.
Kedua Koboi itu mengacungkan tangannya. Mereka mengeluarkan uangnya kepada Greely. Mereka, yang tadi cuek banget, kini seperti buru-buru hendak membeli berita yang dibuat Greely.
“Ssst, sini!” Desis salah seorang Koboi itu kepada Greely. Ia minta Greely mendekat lagi, dan membeli satu edisi korannya kali ini.
Tapi, suasana kebalikannya terjadi di ujung ruang: adegan pilu terlihat. Bartender itu tampak linglung, sedih, galau, dan segudang rasa payah lainnya. Ia memegang kepalanya. Tubuhnya yang tambun bergetar. Tangannya yang gempal gemetar. Kumisnya yang rapih terlihat tak lagi manis. Wajahnya yang cerah tampak runyam. Kedua matanya berputar-putar, tidak pada tempatnya. Tampak kesedihan yang mendalam. Ia seperti memendam kebingungan yang tak lagi bisa dikuasainya. Ia bergumam-guman, mengeluarkan kata-kata tak kunjung tegas dikeluarkan. Saking groginya, dari mulutnya malah keluar kata-kata sedih. Ia menyesali pecahan gelas yang terlepas dari tangannya.
“Cangkir, gelas ibuku!” Keluhnya, pada gelas yang pecah.
Sementar Greely terus mengumandakan isi koran terbarunya. Ia kini mendekati meja si penjual peti mati. Ia kini meriakan berita yang berbeda.
“Uskup O’Callagan kambuh lagi. Keluarganya kuatir! Bacalah Daily Star!” Teriak Greely di dekat meja penjual peti mati. Teriakan itu adalah teriakan berita yang ingin mendekati kepentingan pembacanya. Pembacanya kali ini adalah seorang yang tak berminat pada kehidupan yang biasa-biasa saja. Ia berminat hanya pada soal-soal yang berbau kematian.
“Sssst!” Desis penjual peti mati.
Ia tertarik untuk membaca lebih lanjut soal sakit parahnya seseorang. Ia tergerak. Mulutnya terbuka. Matanya terbuka. Rautnya bersinar. Ia mengacungkan satu jarinya. Ia ingin tahu apa isi berita si sakit yang didengarnya dari mulut Greely. Ia harus membeli koran Daily Star.
Yang tak berubah hanyalah sekop-penggali-kuburnya, posisinya tetap bersandar di meja.
Usaha Greely tak hanya di situ. Ia kembali melolong. Tapi, kali ini, ia mendekati empat pemain kartu yang tadi sempat menendangnya. Tak mengacuhkan teriakan kehadiran korannya. Greely menyiapkan satu teriakan berita yang kali ini, menyemburkan laporan tentang:
“Seribu satu cara untuk menipu tanpa ketahuan!”
Keempat pemain kartu itu pun celingukan. Pura-pura tak memedulikan acungan koran Greely. Tapi, mata mereka mendadak membeliak. Mulut mereka tiba-tiba ternganga. Dari mulut salah satu pemain, sebuah cerutu meloncat sekian senti dari mulut. Cerutu masih panjang. Ia tampaknya tak tahu cerutunya loncat dai jepitan bibirnya. Bukan hanya dia yang terkesima mendengar informasi yang penting bagi hidupnya saat itu. Dua lembar kartu tampak terlempar begitu saja dari tangan seorang pemain yang lain. Kartu itu melayang seperti tak bertuan. Meliuk-liuk dari meja ke lantai.
Greely pura-pura tak melihat. Sebab, benar, setelah itu ada yang terkail oleh umpannya.Tak lama kemudian, empat desis yang cukup keras berbunyi serempak.
“Sssst!”
“Sssst!”
“Sssst!”
“Sssst!”
Bukan hanya desis yang terdengar serempak berbarengan. Tiap satu tangan mereka pun terangkat berbarengan. Satu tangan lainnya sudah kehilangan pegangan pada kartu yang dari sejak awal permainan tak pernah lepas dari jepitan jemari.
Ruangan saloon kini tak lagi senyap. Semuanya menyerobot Daily Star sebagai pedoman untuk menggali apa yang terjadi di kota ini. Daily Star menjadi sesuatu yang bermakna. Setiap pengunjung saloon memelototi isi koran. Ketenangan mereka, yang selama ini, tak pernah tersenth kebenaran sebuah berita, terusik. Sampai wajah penjual peti mati pun, yang biasa dingin, tak bercayaha, tak mau tahu urusan di sekitarnya, berubah. Ia seperti memburu harapan pada apa yang akan terjadi. Mereka kini membuat koran Daily Star sepersis barang hidup.
Yang paling terlihat bersinar-sinar ialah Greely. Mukanya yang tadinya terlihat lelah, pedih, tanpa harap, kini seperti memancarkan kilatan-kilatan kepuasan seorang wartawan. Kepuasan mendapatkan segenggam harapan bahwa korannya tak lagi dianggap sampah. Berita-beritanya telah membuat orang-orang ingin melonggok pada apa yang dilaporkannya.
Yang tak berubah ialah Lucky Luke. Ia hanya menampilan bentuk bibirnya yang agak menjorok ke depan, akibat terbiasa menyulut rokok lintingan, tampak menyunggingkan sedikit senyum. Selebihnya, adalah sosok cowboy yang cuek, seperti tak perduli dengan seluruh isi ruang, segala tingkah polah orang.
Luke di sudut tersenyum, sedikit tapi tetap cuek.

Namun, suasana mendadak berubah.
Bartender bertubuh tambun tiba-tiba muncul di depan Greely. Mukanya garang, melotot, siap bertarung. Moncong senapan siap menyalak ke muka Greely.
“Bilang, whisky saya tidak enak!” Bentak bartender.
Bau kematian terasa. Warna komik menjadi ungu. Semua wajah menjadi kelabu. Wajah-wajah menunggu peluru meletus .... di sebuah dunia cowboy yang berantakan.
Tapi, sebuah sentakan menyabet suasana. Muncul dari Greely. Wajah ungunya berubah, merah marah mewarnai raut kewartawanannya. Ia mencelat dari getir kematian. Ia tersedak oleh kemarahan melawan ancaman. Ia marah. Ia berteriak.
“Setia pada semboyannya, Daily Star menulis dengan jelas apa yang dipikirkan orang diam-diam!
“Whisky Anda dicampur!”
Semua itu dikatakannya dalam todongan senjata. Bartender itu tambah menggelegak. Ia siap memakan jiwa wartawan di depan yang telah menghancurkan reputasi saloon-nya. Wartawan yang mengobrak-abrik kecurangannya, mengembar-gemborkan kepalsuan jualan minumannya. Ia merasa di-pelototi kejahatannya di depan para pelanggannya.
Warna kematian kembali muncul. Todongan senapan sudah siap menyalak.
Di dekat mereka, juga ada yang tengah bersiap-siap, mengantisipasi kesudahan kejadian. Tubuh yang terbujur kaku, sehabis peluru mengoyak tubuh, dimasukan ke dalam peti mati. Penjual peti mati itu terlihat bergerak-gerak dan bergumam. Ia mengukur-ukur tubuh Greely. Ia mencatat ukuran yang pas bagi kotak perti mayat Greely. Ia menyisipkan harapan, dalam gumamnya. “Anda akan puas. Barang kami dijamin awet.”
DOR!
Salak senapan menyentak.
“?”
Orang-orang kaget. Terpana. Mereka yang telah menunggu kejadian sepersis yang dibayangkannya, tersentak oleh bunyi letusan yang bukan dari arah semestinya. Tbuh Greely tidak terkulai ke lantai. Ia tidak bersimbah darah. Bunyi letusan itu bukan dari bartender.
Arah munculnya dari belakang bartender. Dari belakang terlihat ada garis peluru melesat. Menyentak gagang depan senapan bartender. Pas. Tidak meleset sedikit pun. Membuat senapan itu terlepas dari genggaman tangan bartender. Membuat pemegangnya kaget bukan buatan. Saking kagetnya, tubuh bartender terlompat sekian senti dari lantai.
Loh??? Seru orang-orang berbarengan.
Disusul lontaran suara yang enteng dari belakang Greely dan bartender. Muncul dari sudut meja.
“Jangan menyentuh kebebasan pers!”
Katanya kalem. Cool. Seperti tidak terjadi apa-apa. Lucky Luke. Asap peluru tampak mengepul dari ujung pistol yang menggelantung di gesper-pinggang Luke, seolah tidak bergerak sedikit pun. Seperti tidak dikeluarkan dari sarungnya, ditarik picunya. Seakan peluru itu melesat melebihi bayangannya sendiri. Itulah gaya Lucky Luke, cowboy yang punya kecepatan menembak di luar kemampuan orang biasa. Musuh-musuhnya tak pernah tahu kapan pistol itu keluar dari sarunnya. Saking cepatnya, bayangan sendiri sempat terheran-heran.
Seperti tidak ada apa-apa, Lucky Luke dengan enteng menyandarkan satu tangannya ke meja bartender. Satu tangan lagi memegang gelas bir berisi setengah.
Setelah sekian detik terpana, tidak tahu harus berbuat apa, dan kemudian sadar apa yang terjadi, barulah terdengar suara-suara kehidupan bergaung kembali. Semua orang bergerak lagi. Tiap orang dan barang di komik pun berwarna beraneka lagi. Hanya penjual peti mati yang tidak terlihat bergerak. Ia kembali terlihat duduk di meja, tak acuh, dengan sekop galiannya bersandar di meja. Ia tidak mau terlibat dengan suasana yang berubah mendadak jadi hingar bingar.
Orang-orang kini dirasuki kemarahan. Mereka baru tahu ada yang tidak beres di saloon, ada yang tidak asli di minuman yangselama ini mereka teguk. Mereka kesal.
Berbagai teriakan berloncatan, muncul dari berbagai sudut saloon. Gaduh. Suara-suara protes, yel-yel yang memaki bartender campur yel-yel yang Horace Greely.
“DAILY STAR BENAR! WHISKYNYA DICAMPUR!
“HIDUP DAILY STAR !
“PEMALSUAN PASTI KETAHUAN!”
Keadaan menjadi berbalik. Kini Bartender yang gelisah. Walau tidak berwarna kelabu, rautnya, matanya, mulutnya, tampak resah. Ia celingukan ke berbagai suara yang memrotes. Kepalanya kesana-kemari berputar-putar, dengan ketakutan yang amat sangat, pada berbagai arah suara. Ia tahu setelah gadh suara bakal ada yang lebih seru dan bikin keder terjadi. Kerat-kerut rautnya dipenuhi tanda seru. Waspada dan cemas pada segala isi saloon.
Dan, benar.
BUK! ... PRANG! .... BUK!! .. PRANG!! ... BUK!!! PRANG!!! Semakin banyak dan cepat terdengar.
Itu berbagai bunyi barang pecah-belah, dan kursi, dan meja, dan dinding, dan segala perkakas yang ada di saloon. Semuanya terbanting-banting, terbolak-balik, bergling-guling bagaikan ada gempa. Bukan hanya itu. Perkelahian pun terjadi. Suara-suara pergumulan terdengar di dalam saloon. Suara-suara gaduh perkelahian para cowboy di negeri yang berantakan. Hukum berlaku melalui pukulan dan tendangan, rasa jadi jagoan dan rasa kecut, lewat keberanian dan ketakutan....
lemparan-lemparan botol whisky, meja dan bangku ....
Khas dunia western cowboy diaduk-aduk suasana chaos.
Sementara, dua tokoh komik kita tampak muncul di luar saloon. Di belakang keduanya, dari pintu dorong saloon, berloncatan botol-botol minuman, kursi, meja....
Di tempat penambatan kuda, Kedua kuda Greely dan Luke tampak bercakap-cakap.
“Puah! Air minum ini dicampur” Seru kuda Greely menyemburkan air dari palung penambatan kuda.
“Mungkin kau akan jadi berita di Daily Star!?” Kata kuda Luke.
....
Kedua tokoh komik kita kemudian tampak berkuda menuju sebuah tempat.
“Ini kedua kalinya kau menyelematkanku!” Kata Greely.
“Dan aku rasa ini bukan yang terakhir....” Jawab Luke.
“Benarkah, Lucky Luke? Bersedia membantu? Kau mau bekerja di bidang pers, kawan?
“O.K.!....Setuju, Greely!”
“Aku gembira kau bersedia menjadi pelindung kebebasan pers!”

Dari dongeng komik ini, tampaknya, tergambarkan pertanyaan: dimanakah jurnalisme diletakan? Bagaimanakah orang memakai jurnalistik sebagai kegiatan bertutur kabar? Siapakah yang memberi tahu berita sebagai barang penting? Buat apakah jurnalisme dikerjakan?
Semua tercermin.***

Rabu, 29 September 2010

Tua


Di usia mendekati 50, banyak orang berkilah, menolak sesuatu bernama tua.
Caranya: pura-pura tak mengerti ada tubuh yang meriput, ada wajah yang melorot, ada langkah yang meletoy, ada hari yang meraut: wajahMu.
Maka itu: aku pun pura-pura tak kenal dengan hari bernama “ulang tahun”. Aku pura-pura berkata, hai apa kabar. Sudah lama menunggu. Maaf yaa ….
Tapi, ketika kusapa, ia malah tertawa:
“Loh. Siapa anda.…,” ia malah bertanya.
“Bukankah anda,” Tanya ku.
“Maaf, saya waktu yang tak mengenal siapa-siapa….”

9/6/2010 1:53:32 PM

Rabu, 01 September 2010

Tukang Masak: This is it !

Pagi itu suaramu menjadi awan yang mengelilingi dapur. Tungku mendesis-desiskan suara sup panas. Mata, jeroan, sampai kaki: meminta segera. Ayam kampung, terbujur malu, di talenan.


This is it !” serumu.

Suamimu buru-buru menaburi merica ke dalam resep masakan, siaran tivi kuliner, bahkan jamuan makan istana negara.

Ini gara-gara kemarin malam, ia mendapat kabar dari dapurmu. Ayam itu mengajak bicara empat mata cukup lama.

“Sebagai suami, kau harus pintar menguliahi istri tentang hak asasi hewan yang ingin mati terhormat di dalam perut manusia. Bukan. Bukan ingin masuk surga. Bukan menolak takdir….

“Tapi kami juga punya perasaan. Ingin jadi makanan apa, dengan rasa apa, berikut dengan harga berapa ! ”

Sapi berdiri mendelik terus-terusan diajak jadi tenderloin. Tak sudi melulu menunggu di kulkas. Kambing berkacak pinggang, menggeleng-geleng kepala bila cuma disate. Ikan dan cumi meradang oleh minyak goreng yang tiap hari mengajak kencan. Udang marah-marah disuruh jadi penghias jamuan melulu ....

“Itulah kehormatan dunia kami….
“Beritahu istrimu ! ”

Di pertemuan itu, hadir engkol, daun seledri, bawang, cabe merah dan adiknya rawit, serta tumbuhan lainnya, menjadi saksi.

9/1/2010