Jumat, 23 Juli 2010

MENULIS ILMIAH (metodologi) KUALITATIF: Edisi K e d u a

Kehidupan manusia modern banyak dikelilingi berbagai “kisah”. Setiap hari, mereka berpapasan dan bertemu dengan berbagai kisah. “Kita bersimpati, dan mengembangkan pemahaman tentang kehidupan, ketika kita mendengarkan banyak kisah,” ujar Brophy (2009).


Di abad ini, banyak kisah menghilangkan “pengetahuan dan kebijaksanaan”, dari generasi ke generasi. Selain itu, menghilangkan “pengalaman” sebagai basis pengetahuan, dan nilai-nilai kemanusiaan. “Kisah-kisah” itu menjadi subtil, menyembunyikan “setengah irama” kemanusiaannya. Kisah-kisah itu dikalahkan oleh pesona “statistic” kehidupan modern


Banyak pihak lalu membangun kembali hubungan narrative and knowledge. Naratif dijadikan kembali sebagai sebuah kunci pengetahuan, a key form of the knowledge they are seeking to capture and share. Di masa lalu, pengetahuan dan naratif amatlah intim, memiliki kedekatan konsep, bahkan menjadi jalan orang berkomunikasi. Tapi, di dunia modern, khususnya selama setengah Abad 20, terjadi pemisahan. Naratif, dan terutama “kisah”, dipisahkan secara “keras”.


Bagi dunia akademis, konsep naratif, dalam pengisahan (storytelling) ini, sebenarnya bukan hanya memaparkan fakta-fakta. Akan tetapi, lebih kepada “memaknakan” pengalaman kehidupan kemanusiaan kita. Pemaknaan yang tidak boleh dikerangka secara semena-mena, melainkan harus “dimaknakan dalam kesadaran akademis: kewaspadaan seorang “pengisah” akademis. Pengisah akademis yang membedakan penulisan: “you can research the story, or you can story the research.”


Pada sisi inilah, unsur storyteling bermain. Creswell (1998) mengusulkan gaya Narative Report. “Di mana para penulisnya menggunakan ‘metafor’ untuk menggambarkan keseluruhan laporan atau studinya”. Dalam kaitan Riset Kualitatif, pengisahan naratif dilakukan berdasar kerangka yang bersifat teknis, metodis, sampai asumsi filosofis, paradigmatis, atau metodologis. Secara sederhana, pengisahan narartif melaporkan “pengalaman” kemanusiaan itu secara tidak linier.


Hal ini didorong oleh saling pengaruh antara science dan sastra, di sepanjang abad 20. Kalangan ilmuwan mendekonstruksi penulisan ilmiah (positivistic). Clifford Geertz (1983) menyatakan banyak riset filsafat tampak seperti studi sastra. Bagaimana risalah teoritis ditulis bagai kisah travelog (Levi-Strauss). Argumen ideologis disusun bagai historiografis (Edward Said). Studi epistemologis dibangun bagai esai politik (Paul Feyerabend). Polemik metodologis muncul sebagai memoar pribadi (James Watson).


*****


Maka itulah, laporan Kualitatif dipenuhi deskripsi detil, penuh warna, dan kelenturan sajian. Laporan kualitatif memberi perasaan kepada pembaca, mengenai pelbagai peristiwa dan orang-orang tertentu dari seting sosial yang konkrit. Mereka memusatkan perhatian pada soal-soal seperti sub-sub kultur the others, atau seorang aktor sosial yang ingin masuk ke lingkungannya. Mereka melaporkan kejadian-kejadian riil, omongan-omongan orang (melalui kata-kata, gerak-gerik, dan nada-nada bicara), kelakuan-kelakuan unik, dokumen-dokumen tertulis, atau imaji-imaji visual. Semuanya mengimplikasikan aspek-aspek konkrit kehidupan.


Penulis kualitatif melaporkan meaning of events. Laporannya mengamati berbagai kejadian dan interaksi dari tempat kejadian. Tujuan akhir tulisan kualitatif ialah memahami apa yang dipelajari dari perspektif kejadian itu sendiri, dari sudut pandang kejadiannya itu sendiri. Penulisannya mengulik momen-momen when dan how pengalaman “si subjek”. Nara sumber dan peneliti, antara lain, sama-sama memroses researching and writing, thinking and doing sesuai Fokus Penelitian. Peneliti Kualitatif menjadi orang yang belajar “sambil jalan”. Apa yang ditemukannya, ialah apa yang dipelajarinya.


Peneliti mencari sekumpulan representasi”: dari lapangan, wawancara, pembicaraan, fotografi, rekaman, dan catatan pribadi. Riset Kualitatif menjadi sebentuk pekerjaan interpretif, pendekatan naturalistik: berdasar kenyataan atau keadaan yang terjadi, mencoba menjelaskan, atau menginterpretasikan, “pemaknaan”. Di dalam laporannya, akhirnya peneliti bukan lagi menjadi petugas pelapor”. Peneliti akhirnya menjadi “seorang kreator”. Sosok “saya” (peneliti) hadir di laporannya. “Saya” di sini ialah “Orang Pertama yang melaporkan pandangan, amatan, dan kajiannya. Ini sepersis dalil understanding follows doing.


***


Saya melihat banyak mahasiswa (sarjana, magister dan doktoral), serta pengelola fakultas, yang membahas penelitian Kualitatif. Ketika buku Menulis Ilmiah Kualitatif Edisi Pertama terbit, saya berbahagia mendengar mereka mendapat penjelasan: bagaimana menerangkan pelbagai peristiwa dan orang, bagaimana mengkonkritkan deskripsi seting sosial, dan bagaimana melaporkan temuannya secara naratif, dst.


Dan, diam-diam, mereka memberi “energi”. Saya tergugah secara multidimensi: untuk menyempurnakan Edisi Kedua buku Menulis Ilmiah (metodologi penelitian) Kualitatif ini.


Maka itulah, pada “Edisi Kedua” buku ini, saya menjelaskan penulisan ilmiah dengan beberapa perangkat dan hal-hal teknis metodologis (Kualitatif). Saya menjelaskan bagaimana planning, writing, editing and reviewing”, dengan sisipan literasi metodologis di sana-sini. Saya coba mengembangkan ke pelbagai dimensi prosa intelektual yang unik, yang punya subjektifitas sudut pandang menarik, paparan naratif yang emotif, sampai upaya-upaya kreatif lain.


Selain itu, saya coba mendeskripsikan berbagai teknis penulisan seperti Menangkap Topik, Menulis Judul, Menulis Statement of The Problem, Struktur Naratif, Mengalurkan Tulisan, Bahasa Kualitatif, dan Penulisan Akademis. Buku ini juga memberikan contoh-contoh bagaimana mengalurkan laporan ilmiah ke dalam jenis-jenis tulisan tertentu. Tiap klasifikasi digambarkan bentuknya, dan dicoba-contohkan.


Pada buku “Edisi Kedua” buku ini, saya juga melakukan beberapa upaya: mengoreksi, meringkas, menambahkan, dan mengubah outline. Mengoreksi: misalnya, beberapa salah cetak, atau mengubah padanan kata/istilah. Meringkas: antara lain, di beberapa contoh laporan riset di “Edisi Pertama” yang dinilai terlalu panjang dan longgar. Menambahkan: di beberapa bab-bab, bahasan yang memberi ketajaman, kedalaman, dan keluasan tertentu. Mengubah outline: di beberapa bagian dan isi bab. ****


Jumat, 30 Oktober 2009

Ada Amerika Mencuci Muka

ada mexico mati. ada mexico mati. di dekat perigi, kemarin pagi
ada jepang melukis peti mati di toko mesin cuci sambil berdiri sebelum mandi pagi
ada pakistan ngomong sendiri, tuhan mencintai bunuh diri sehabis makan pagi
ada arab merapal keluarga jangan berjinah dengan polisi amerika
ada yahudi menjadi rabi lewat bernyanyi di kantor imigrasi
ada australi membuka selangkangan pada lelaki mencari lisensi
ada amerika mencuci muka sehabis menangkapi
tubuh tak berkartu,
wajah tak bertanda,
kota tak bermalu,
kamar tak berpintu,
pabrik tak bernama,
upah tak berlisensi,

di tandus tanah perbatasan

Juni 09

Kamis, 02 April 2009

APA BEDA KAMPANYE DENGAN TUKANG OBAT

Septiawan Santana K.

Kampanye kini di mana-mana. Facebook, dinding elektronik baru, pun jadi media. Baru-baru ini, saya mencoba mengunduh pesan antardinding, di facebook, dengan pertanyaan: apa bedanya kampanye dengan tukang obat di alun-alun....

Saya terkaget-kaget. Banyak pesan masuk ke dinding facebook, menanggapi. Setelah berbagai pesan itu dibereskan EYD-nya, saya berniat mengumpulkan, dan mendeskripsikannya. Tentu saja, tiap pendapat ini menjadi tanggung jawab saya jika ada yang sebal dan kesal saat membacanya.

Inilah di antaranya:

(Jam 10:24, 18 Maret 2009)

Bedanya mah yang satu jual obat..yang satu lagi jual janji...hahaha..betul nggak Pak?

(Jam 10:44, 18 Maret 2009)


Kalau yang yang satu, obralnya di alun alun. Kalau yang satu (lagi), jalan-jalan keliling... hehehe



(Jam 10:59, 18 Maret 2009)


Sama-sama bikin udara panas, terasa makin panas...



(11:02, 18 Maret)


Agak mirip sech...bagaikan pinang dibelah dua....



(11:32, 18 Maret)


Yang satu bikin sembuh, yang satu malah bikin tambah mual....



(11:36 18 Maret)


Yang satu pakai kopiah sama kerudung. Yang satu kayak preman.



(12:56 18 Maret)


Jelas bedalah,TERIAKANNYA....



(13:03 18 Maret)


Kalau dengerin tukang obat, nanti kita keluar duit. Tapi kalau dengerin yang kampanye, kita dapat duit....Ya pilih saja, mana yang lebih mudharat....Bukan begitu, Pak Dosen.



(17:12 18 Maret)


Tukang obat mah, teu dibaturan ku penyanyi dangdut

(Tukang obat tidak ditemani penyanyi dangdut)



(21:24 & 21:26, 18 Maret)


Sarua usahana... (sama-sama kegiatannya)

Sarua kandel bengeutna.... (sama-sama tebal mukanya)
Beda make-up-na.... (berbeda make up-nya)



(7:45, 19 Maret)


Sarua ngamodalna....Ngan, kampanye, mah, modalna kudu 100 milyar. Di alun-alun, mah, cukup 100 rebu

(sama dalam memodalinya. Namun, kampanye itu, modalnya butuh 100 milyar. Di alun-alun, cukup 100 ribu)



(16:36, 20 Maret)


Kalau kampanye pakai daerah pemilihan. Kalau tukang obat, suka-suka daerahnya...



(21:35 20 Maret)


Ini Tukang Obat:

"Ini Obat bukan sembarang obat.... Ini Obat dari negeri seberang.... Anda punya panu kadas kurap...pasti sembuh dengan sekali oles.... Nggak percaya? Silahkan Anda coba...."


Ini Caleg kampanye:

"Saudara-saudara, ... saya berjanji akan menyembuhkan Anda dari berbagai macam penyakit sosial Indonesia. Kemiskinan, kemelaratan, dan kebodohon adalah sebagiannya.... Baca selengkapnya, penyakit yang akan saya sembuhkan... uhuk... uhuk...uhuk... (sambil batuk-batuk). Lalu, saya juga .... ( terdiam sejenak karena menggaruk punggung yang gatal: kayaknya, panuan ) Maaf....Saya juga berjanji akan menghilangkan berbagai biaya yang mencekik leher rakyat. Salah satunya....uhuk...uhuk... (kembali terbatuk), biaya berobat untuk yang punya penyakit TBC seperti saya....uhuk...uhuk.... Sekian....Dukunglah saya.

Merdeka....

Lalu dengan tenang, Caleg itu mati dengan senyum di bibir yang berdarah karena TBC yang akut.


(21:39 21 Maret melalui Facebook di Ponsel)


Kampanye kalau Goal (terpilih)! Sudah harus bayar hutang. Riweuh ngumpulken (sibuk mengumpulkan) duit lagi yang sudah habis. Tukang Obat, kalau ada yang sakit, minum obat yaa pasti sembuh....



(pada 10:37, 22 Maret)


Nggak ada bedanya, kaleeeeeee!



(pada 11:11 22 Maret)


Pak dosen, kumaha komentarna atuh....hahaha

Pada pesan terakhir ini, saya cuma bisa menggaruk-garuk kulit kepada yang tidak gatal. Saya jawab:

“Saya sendiri sedang terkaget-kaget, mendapatkan tanggapan seperti ini.”

Dan, mendadak sontak degdegdeg-an. Takut disebut jadi Tukang Obat Golongan Putih.

Ih, seyeeem.***

Kamis, 21 Februari 2008

FO Menyoroti Kegilaan Komunikasi Kita

Dario Fo memang jeli. Fo, seakan melanjutkan ranah Italian commedia dell’arte, ke wajah komunikasi kita saat ini. “Advertising! Jam demi jam menyiksa otakku untuk memikirkan cara membikin orang mau membeli barang-barang tak berguna”, serunya pada orang iklan yang diburu-buru tengat pesanan perusahaan yang ingin produknya laku di pasar, dan perusahaannya naik ke bursa saham.

Nada mengejek ini khas satiris orang-orang yang sinis pada industri. Tapi, kesinisan ini dibawakan bukan sekadar menolak. Tapi, lebih dari itu. Saya terpesona pada kejeliannya menangkap kegilaan di pojok-pojok komunikasi manusia modern yang mencoba mengindustrikan tiap keping pesan. Dan, kerap menghancurkan retorika interpersonal kita ke dalam kesepiannya manusia dikapitalisasi.

Membaca beberapa naskah Dario Fo (dalam terjemahan Indonesia), yang lahir di Leggiuno-Sangiano, Italia, pada 24 Maret 1926, memang menangkap satiris Italia yang meraih Nobel Prize for Literature pada 1997. Pada Fo, tentu saja bukan sekadar penghargaan Nobel, melainkan ada gaya teatrikal yang menyentil ruang kehidupan kita, seperti komunikasi sosial kita, dengan satir yang menyengat. Dan, kita tahu: ada kegilaan yang mesti dicermati.

Dunia komunikasi punya kegilaan tertentu. Orang kehilangan mata, telinga, hidung, dan perasaan, bahkan nalar ketika keruwetan semakin menghimpit. Orang kerepotan mencari kontrol bagi dirinya.

Dario Fo punya cara menampilkannya. Melalui kesepian pekerja iklan (advertising), pasien sex, filem televisi, polisi neurotik, dinding kamar, suami-istri, dokter dst: digambarkan. Fo menyajikan psikedelik mereka. Fo melihat komunikasi bagai keruwetan lalulintas di saat macet. Semua menceracau, menggerutu, tapi tetap tak dapat jalan.

Misi utama komunikasi manusia ialah menjadi mahluk sosial. Untuk itu, tiap orang merancang strategi komunikasi yang efektif. Tujuan: agar bisa bermasyarakat dengan enjoy, tidak disebut alien atau bahlul oleh orang sekampung. Komunikasi dipahami, dan dilakukan, demi keberhasilan kita di dalam berinteraksi sosial.

Namun, ada ruang dan waktu NOL yang kerap menghadang. Kita suka kehilangan kendali pada titik-titik nadir momen dan ruang-waktu tertentu. Kita kehilangan eksistensi kemanusiaan. Kita terjebak dengan keruwetan menakar siapa kita, mengukur keakuan, dan menalar kita tengah apa. Pada saat itu, ruang dan waktu NOL, kosong, seakan hinggap di sekujur komunikasi manusia.

Fo mengajarkan, di dalam naskah ini, agar waspada. Kita mesti menyiapkan diri. Kita harus mampu mengendalikan partisipasi kemanusiaan kita, sepanjang hidup, untuk produktif dan terlibat di dalam kehidupan, di dalam bermasyarakat. Kita mesti tahu ada kemungkinan bolong, NOL, di dalam retorika sosial kita. Kita jangan bodoh menawarkan kepenatan kita pada telepon, televisi, perangkat audio, bahkan dinding kamar: sebagai media komunikasi. Kita mesti mencermati makna komunikasi interpersonal yang menjadi alat penghubung kita dengan keberadaan kita sendiri ketika berhubungan dengan sesama. Kita mesti sadar ada teater di dalam teater di dalam berkomunikasi sosial.

Sebagai mahluk komunikasi dan teatrikal di dalam kehidupan, ada ruang belajar yang mesti diupayakan saat memroses berbagai pesan (komunikasi) hendak dilakukan dan didesiminasikan. Ada perhatian yang harus diberikan pada berbagai peran dan panggung di saat proses komunikasi dilakukan. Tiap konteks komunikasi itu butuh analisis dan kekhasan; termasuk di dalamnya retoris kita, komunikasi interpersonal kita, dan penggunaan media, serta “teater” komunikasi (dramatugis) yang hendak dilakukan.

Sebab, di sana ada ranah disiplin kehidupan tertentu, seperti perspektif humanitas, artistik, dan sosial. Komunikasi terbangun dari kerangka kehidupan itu sendiri, yang diskematikan ke dalam pemahaman teoritik, melalui dinamika criticism of messages and practice and research. Di situ terbentang berbagai area komunikasi kemanusiaan kita yang tercacah kepada penguasaan kemampuan berkomunikasi di berbagai bidang seperti corporate communication, public relations, advertising, marketing, mass media, sales, public service dan the performing arts.

Fo menyoroti kegilaan komunikasi kemanusiaan kita. Ia menyentuh kita di saat kita berada di aktifitas ko-kurikuler kehidupan “komunikasi”. Ia memorakporandakan komunikasi kita tatkala berdebat. Ia menunjukan kekonyolan komunikasi kita ketika menggunakan media, dan di ruang-ruang media massa. Fo menunjukan “teater” komunikasi kita di pentas teater: bagaimana dramatugis-komunikasi di peran-peran front stage (tampak permukaan) dan back stage (di belakang panggung). Di naskah teater ini, Fo melihat kegilaan komunikasi kita pada dunia Interpersonal Communication, retoris, media, dan “dramatugis” (komunikasi).

Pada sisi inilah, saya ketakutan terjebak dengan kegilaan saat berkomunikasi. []

* Tulisan ini menjadi salah satu pengantar dan diskusi dalam pertunjukkan teater berjudul ”An Ordinary Day” di CCF Bandung, Feb 2008; lihat juga www.beritaseni.wordpress.com

Selasa, 01 Januari 2008

Mengkaji Teks Berita

* dari kajian berita Tempo "penggelapan pajak PT Asian Agri"


Kajian isi media bisa direka-reka. Cara merekanya disebut metoda (ilmiah). Dengan metoda, peneliti menyudutpandangi objek yang ditelitinya. Ia membuat kerangka: apa ini, apa itu. Bagaimana dan mengapa ini dan itu terjadi.
Tapi, yang lebih penting, ialah gagasan yang dipakai di dalam meneliti. Gagasan apa yang hendak dipakai. Misalnya, ketika mengkaji berita yang dilaporkan sebuah media. Menggagas bahwa media ini tidak akurat? Tidak seimbang? Berprasangka buruk? Dan setertusnya. Dari proses macam inilah, kajian akademis mengenai media, di antaranya, dilakukan.
Perekaan gagasannya tergantung kepada metoda. Hasil kajiannya bisa berbeda-beda. Dari sanalah dunia akademis meramaikan diskusi publik. Dari sana pula, kita memperdebatkan soal kekurangakurasian, ketidakseimbangan, kecenderungan atau prasangka “praduga tak bersalah” bagi sebuah media. Berdasarkan ini, kajian akademis harus berhati-hati.
Misalnya, peneliti tidak boleh semena-mena menyimpulkan “kelemahan” berita melalui prosentase kedudukan sumber berita dan pihak yang dikonfirmasi. Sekian prosen berita, dan sekian prosen pihak yang dikonfirmasi, bukanlah sebuah kesimpulan.
Misalnya lagi, peneliti tidak bisa begitu saja mengkaji berita berdasar dua objek yang berlawanan, seperti menghadapkan sumber berita dengan pihak “lawan” (sumber berita). Peneliti mengukur hitam putih persoalan. Pasalnya, karena sekarang tv saja sudah berwarna: mana baik, mana buruk tidak bisa digeneralisasikan begitu saja. Menghadapkan “sumber berita” vs “lawan (sumber) berita” tidak bisa dikuantifikasikan begitu saja.
Di sana ada ruang “kualitatif” dari realitas fakta yang harus dikaji.
Ruang “kualitatif” itu, misal selanjutnya, ada di “kata-kata” berita yang digagas (peneliti) bersifat “tendensius”. Upaya mengerangka isi berita berdasar kata-kata “personalisasi, emosionalisme, dramatisasi, juxtaposition (penarikan kesimpulan berdasar dua fakta berbeda), linkage (penarikan kesimpulan berdasar fakta yang tidak relevan)”: itu mengandung tafsir yang ragam.
Kerangka Framing atau Wacana memang bisa menafsir “kata-kata” dari isi berita. Tapi, yang harus diwaspadai, ialah analisis kata-katanya tergantung pada kerangka gagasan (konseptualisasi) peneliti ketika menyudutpandangi teks berita yang dikajinya.
Kata-kata seperti “itu murni yang minta Lapindo” seakan menyudutpandangi Lapindo sebagai si pemaksa. Tapi, media bisa selamat bila mempersonalisasikan hal itu berdasarkan fakta. Wartawan punya keleluasaan mengasumsikannya asal berdasar fakta yang kuat.
Kata-kata seperti emosionalisme “ia nekat” memang bisa mengandung bias. Bias itu menjadi hilang bila asumsi kenekatannya diambil dari rangkaian fakta yang kuat. Wartawan memang tidak boleh tiba-tiba menyebut “ia nekat”. Tapi, peneliti juga harus jeli pada upaya wartawan mengasumsikan “nekat” itu berdasar fakta-fakta terjadi. Peneliti harus waspada terhadap upaya isi pelaporan wartawan yang telah melogikakan asumsi “ia nekat” di dalam laporan beritanya.
Pada kajian kata-kata juxtaposition seperti “bubarkan saja kelurahan dan kecamatan” pun begitu: bila pembaca diberi penjelasan dari mana asal kesimpulan itu diambil, melalui pelaporan fakta-fakta di berita tsb. Peneliti tidak bisa begitu saja menyimpulkan ada kelemahan berita berdasar mesin keywords-nya menemukan kata-kata tsb. Sebab, jika di dalam pelaporan yang utuh dibacanya, ada upaya pengasumsian fakta (penjelasan) wartawan di dalam mengaitkan dua fakta (yang dinilai berbeda oleh peneliti) yang cukup jelas: hal ini harus dikaji peneliti.
Demikian pun dengan kata-kata linkage, seperti “yang ujung-ujungnya”, tidak akan menjadi bias jika ada verifikasi yang dilaporkan si wartawan. Peneliti harus memperhitungkan hal ini di dalam berita yang dikajinya.
Semua itu mengisyaratkan bagaimana “sudut pandang” analisis akademis mengerangka kajiannya. Mengkaji “kata-kata” teks berita tidak main-main dampaknya. Ini bisa menyebabkan media dan wartawannya jungkir balik kredibilitasnya. Maka itu, kajian akademis tidak hanya analisis teks berita. Kajian harus mengeksplorasi bagaimana dan mengapa wartawan (si peliput berita tersebut) mengerjakan liputan, dan menyusun laporannya. Sebuah berita tidak melulu teks, tapi ada ruang “kualitatif” liputan dan keredaksian. Bila melulu teks, ujung analisis teks dikuasai “sudut pandang” peneliti semata.
Misal, kajian media Framing. Teks berita dapat dikaji melalui “news frame, konteks, penyampai pesan, visual, metafora, tone”, dst. Alatnya: mesin keywords pencari “kata”. Hasilnya: tergantung konseptualisasi kajian peneliti. Maka itulah, kajian Framing, dalam jenis kualitatif, punya reka tafsir yang ragam. Semua berpulang kepada kerangka sudut pandang peneliti.
Namun, yang terlebih penting, kajian tidak hanya mengkaji tools pemberitaan. Tapi, penjelasan dari peliput dan redaksi di belakang “berita” perlu dicari.
Riset Framing dan Wacana membutuhkan pencarian data kualitatif. Data dari realitas yang ditampilkan teks, seperti wartawan dan redaksi. Bila tidak dilakukan, berkemungkinan “bias” pada kesimpulan. Hasil kajian melulu sudut pandang (kerangka konseptual) periset. Melakukan observasi lapangan (ke pihak redaksi, ke orang-orang yang muncul di dalam pemberitaan, dst), melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait dengan pemberitaan: akan menambah bobot kajian. Ada daya eksploratif, komprehensif, dan meminimalisir biasnya hasil kajian
Kerja observasi dan wawancara itu, antara lain, membedakan kajian kuantitatif dengan kualitatif. Ranah kualitatif, seperti Framing dan Wacana, berbeda dengan riset kuantitatif seperti Analisis Isi.
Demikianlah bila teks berita dikaji secara akademis. Banyak ruang dan lubang yang penuh tafsir. Tiap metoda (kualitatif) menghasilkan segudang tafsir (hasil) kajian. Dalam kajian kualitatif, tiap peneliti bisa berbeda tafsir untuk soal yang sama. Karena apa? Sudut pandang acuannya bisa berbeda.
Dari proses macam ini, ditentukan kredibilitas peneliti. Apa peneliti punya niat baik, komitmen etik, pancasilais, dst. Atau sebaliknya, cuma ingin eksis, dapat duit, dan cantelan politis.*
**

Sabtu, 01 September 2007

Media Tanpa Masses

Berbagai informasi membanjiri, bahkan mengintimidasi, kita kini: lewat infotainment, infomersial, dokudrama, home video, talkshow dan gosip internet. Di era reformasi Indonesia yang kian kompetitif kini, bisnis media semakin meruncing. Pasar media menjadi semakin sengit.
TV Kabel dan internet kini menginformasi kita tanpa jeda. Kehadiran teknologi digital meruncingkan persaingan pasar media. Di AS, misalnya, total penjualan suratkabar perhari menurun dari 62,3 juta (1990) jadi 60,7 juta (1991). Suratkabar bersaing dengan 12.000 majalah, 8500 mingguan, 350 stasiun TV komersil, 500 stasiun TV layanan publik, 10684 sistem TV kabel, 9500 stasiun radio dan 2650 layanan database (Wilson, 1992). Lebih dari 150 surat kabar harian gulung tikar selama 25 tahun. Menurut poling Times Minor Center (April 1995), tinggal 45 persen masyarakat yang membaca suratkabar sehari sekali. Pada 1993, jumlahnya masih 8 persen.
Penurunan terjadi pada pemirsa berita televisi, tinggal 48 persen yang menonton berita TV jaringan malam, turun dari 60 persen pada 1993. Jaringan TV Nasional, yang dulu berkibar, bersaing dengan ratusan TV kabel. Pesaing lainnya, melalui jaringan serat optik, situs internet mentransmisikan berbagai berita dan layanan khusus langsung ke rumah. Pesaing seterusnya, siaran semi–berita talkshow radio, siaran iklan dan infotainment, yang meninformasikan pesan secara cover both sides, sudut pandang yang seimbang, dan mengklaim jualan informasi “objektif”.
Tapi soalnya bukan cuma teknologi.

Jurnalisme Publik
Media menjadi “krisis” (bukan kritis) ketika melakoni kaidah jurnalisme, tulis pengamat media Scott Shuger (1998). Krisis itu ada di struktur pelaporan berita. Informasi tidak digali. Aarah dan isi pesan menghilang. TV dan radio dan media elektronik lain amat-sangat mengejar aktualitas. Sajian beritanya hanya mengejar fakta tunggal – dalam kesekilasan detik dan menit laporan reporter dan “presenter”. Kemendalaman informasi pun hilang, dan berita cuma ada di seputar fakta utama. Pers cetak terjebak kharisma ketokohan sosok, atau berkutat di isi kejadian yang tengah menghangat. Akibatnya, fakta-fakta penting tak tergarap, dan bahkan terjebak di isu-panas para elit ketimbang publik.
Semua itu mengakibatkan bias jurnalisme yang hendak mengangkat kepentingan dan kebutuhan publik
Media massa kerap gagal melayani publik ketika harus memberi informasi, terkecuali saat menghibur, membuat sensasi dan mengeduk uang. Hal ini membuat banyak pihak kini membicarakan “civic or public journalism”. Berbagai pihak menolak ruang publik dimanipulir, dibikin katro, oleh media.
Media kerap menyingkirkan demokrasi, dan menjadi media propagandis atau media penghibur (entertainers). Media sering menjauhi publik, dan menjadi media yang suka melebih-lebihkan pesan “pesanan” (propaganda), atau media yang suka melebih-lebihkan pesan “hiburan”. Dunia media seakan dikuasai oleh kekuatan-kekuatan dari totalitarian state, atau dikoyak-koyak oleh negara entertainment. Media menjadi pesuruh politisi yang mengampanyekan gerutuan politis. Media menjadi pedagang yang dikejar-kejar target advantage dan marketing. Konglomerasi media telah mensubordinasikan jurnalisme ke dalam kepentingan politis atau komersial.
Karena itulah, publik kini dihadirkan. Jurnalisme publik muncul, berkembang dari gambaran “Trustee Model”. Model ini menolak “a Market or Advocacy model”: gambaran kerja media mengejar-ngejar pasar atau teriakan-teriakan politis. Trustee Model merupakan kegiatan media yang melaporkan berita yang seia-sekata dengan sekelompok publik. Berbagai beritanya klop dengan yang dipikirkan dan diyakini publik yang jadi subyek pemberitaan. Media tidak iseng sendiri, memasa-bodohkan publik di dalam pemberitaannya. Dengan kata lain, publik diberi layanan khusus di pelaporan berita. Publik diajak arisan di dalam proses pemberitaan: mereka berhak mengoreksi, menunjukkan, atau memunculkan apa-apa yang jadi persoalannya. Dengan cara beginilah, kepercayaan (trustee) publik coba diraih (Schudson, 1998).
Publik tidak jadi sekadar indeks-indeks pelaporan media. Publik bukan nama-nama statistik yang dicatat pernyataan-pernyataannya, atau direkam hal-hal yang dialaminya, lalu tidak diperhatikan lagi pelbagai kepentingan, keyakinan, atau pemahamannya. Setelah berita selesai dilaporkan, publik ditinggalkan begitu saja. Media merasa bebas dari persoalan publik yang dilaporkannya. Wartawan pulang ke rumah, meneruskan hidup kesehariannya, dan besoknya bersiap mencari peristiwa baru (dan publik baru) untuk dilaporkan sebagai berita.
Ini yang ditolak jurnalisme publik. Dalam jurnalisme publik, media menjadi saluran yang dipercaya betul bisa memegang janji untuk membela kepentingan publik. Media di yakini betul akan membantu persoalan publik. Jurnalisme publik ibarat pergantian perpindahan shift dari jurnalisme informasi (journalisme of information) ke jurnalisme percakapan (journalism of conversation). Amsalnya: publik tidak hanya membutuhkan informasi. Publik membutuhkan komitmen media untuk memberitakan peristiwa melalui proses yang melibatkan diskusi dan debat pelbagai pihak – yang terkait dengan peristiwa tersebut.
Publik menjadi faktor utama? Bagaimana dengan peristiwa itu sendiri? Apa wartawan harus memihak? Bukankah itu berarti subjektif? Tidak, tidak, dan tidak. Di sini yang berproses adalah tradisi jurnalisme yang tetap menetapkan netralitas dan objektifitas di dalam pelaporan berita. Akan tetapi, menjauhi kepingan politisasi atau advokasi. Jurnalisme tidak dipengaruhi kedua hal itu.

Penutup
Tingkat persaingan yang tajam membuat sajian dan isi media banyak yang beorientasi pada “sensasi” sentimen isu yang dangkal. Kepemilikan media juga membuat jarak kian lebar antara idealisme pers dengan bisnis. Idealisme disini ialah visi dan misi tanggung jawab media terhadap masyarakat. Era konglomerasi media bisa mensubordinasikan jurnalisme ke dalam kepentingan komersial. Bukan berita. Bukan jurnalisme.
Rakyat membutuhkan panduan yang bisa dipercaya ketika aliran informasi menyerbu rumah mereka. Kebajikan utama jurnalisme ialah menyampaikan informasi yang dibutuhkan masyarakat untuk dapat leluasa dan mampu mengatur dirinya. Jurnalisme, dari realitas yang dilaporkannya, menciptakan bahasa bersama dan pengetahuan bersama. Media jurnalisme menjadi wacthdog, anjing penjaga, berbagai peristiwa yang baik dan buruk, dan mengangkat aspirasi yang luput dari telinga orang banyak.
Masyarakat memerlukan penjaga gawang (gatekeppers) informasi yang tepat. Gatekeeper adalah unsur penting dalam proses pelemparan berita. Tiap skema rencana dan pelaksanaan reportase ada antara lain dalam keputusan gatekeeper. Ini merupakan satu pemindai bagaimana kelangsungan sebuah media mengangkat dan menenggelamkan kepentingan masyarakat.Jurnalisme publik mengisi ruang publik yang kehilangan media diskusi. Muncul dari kalangan media sendiri yang jenuh dengan politik, kapitalisme, media market system, serta tatanan apatis dan sinis: yang hanya menggerutu, “puas..puas...puas...!!.***

Jumat, 20 Juli 2007

Puisi

Rumah Kardus

Mentari cuma mampir di sini. Percakapan lirih. Pagi tiada pergi: menjadi sesuap nasi. Selangkah lagi, mati di air kali. Cikapundung, Bandung, dahulu sumur : tempat kawan Sunda berkata: Sangkuriang melayang sampai pagi dalam mimpi tak jadi-jadi....Hitam kali mengajak pergi. Sesudah mandi daki kota makin sendiri. Bapa menatap hujan. Ibu memandu bahu. Anak riang mencari. Di sela-sela pekik siang menahan perigi: sepenggal tinggal. Dicatat walikota mencari kabar ibukota.Pernah cerita membawa suara. Tahun-tahun meluncur. Si kaya menyerahkan kota. Priangan si Jelita minta dipelitur.
Sudahkah kabayan berkebaya?

2003