Minggu, 27 Maret 2011
Perkembangan Jurnalisme
Selasa, 01 Maret 2011
Menyimak Jurnalisme dari Komik Lucky Luke
Di sebuah negeri cowboy yang berantakan, sebuah koran terbit dengan gagah berani. Namanya, Daily Star. Koran ini punya tugas maha penting. Hal itu terlihat dari visinya: misionaris informasi. Kegagahannya terlihat dari pengelolanya. Susunan redaksinya terdiri dari pemimpin redaksi yang dipegang oleh orang bernama Horace P. Greely. Ia begitu berani karena selain menjabat pemimpin redaksi, ia sekaligus pula memegang jabatan: Direktur, Editor, Bendahara, Iklan, sampai Percetakan. Semuanya diborong.
Koran ini terbit melalui mesin cetak berkaki tiga, dengan satu pelat press yang dipuntir. Namanya gagah: Washington Imperial Nomor 3.
Daily Star memang gagah berani. Salah satu cirinya: berita-beritanya sering bikin jengkel. Koran dan pemilik dan mesin cetaknya membuat berang banyak orang. Dengan kesudahan, ketiganya menjadi korban amuk massa. Pengelolanya babak-belur disiksa tak habis-habis. Korannya diinjak-injak bagai kotoran. Bahkan, mesin cetaknya dibolak-balik, digusur, dibanting bagai mainan anak-anak yang sudah rampung masa tugasnya lalu ditendang begitu saja ke halaman.
Tapi, pemimpin redaksinya tak pernah susut semangatnya. Greely adalah manusia berkepala batu granit. Ia tak lekang oleh sumpah serapah tak lapuk oleh siksa. Kisah pedihnya malah ia beritakan, mengikuti garis visi perjuangan jadi “misionaris informasi”, lewat misalnya berita model begini:
"Haruskah kita berterus terang kepada pembaca?
Koresponden kita yang simpatik di pusat bagian Barat yang biadab ini, Horace P. Greely lagi-lagi menjadi korban di dalam misi wartawannya. Setelah dilumuri oli dan diguling-gulingkan ditumpukan bulu di Nothing Gulch City (1), direndam di dalam tetes dan diumpankan pada semut pemakan daging di Coyote Creek (2), dipaksa minum bir yang dicampur di Thirsty Town (3), hari ini ia telah mengalami goncangan yang paling menakutkan: di depan matanya, para penjahat telah menceburkan teman pribadinya, Washington Imperial Nomor 3, di Quiet River yang deras airnya .... "
Cerita ini merupakan penggalan kisah Lucky Luke menemani dunia kerja kewartawanan. Dalam komik yang diceritakan X.Fauche Moris & J.Leturgie ini, Lucky Luke bertualang dalam kisah berjudul Daily Star (1984, terjemahan Indonesia:1989). Horace P.Greely adalah sosok legenda bagi dunia pers Amerika di awal-awal tumbuhnya. Koran Daily Star ialah koran yang banyak dicatat sejarah pers AS.
Moris & Leturgie kemudian mempertemukan wartawan Horace P.Greely dengan cowboy Lucky Luke. Konon, menurut dongeng komik ini, penderitaan akhirnya Greely akhirnya berbuah. Ini dikarenakan Greely bertemu dengan seorang koboi jago tembak – yang kecepatan menembaknya melebihi bayangannya sendiri. Koboi itu bernama Lucky Luke. Seorang pahlawan western yang peduli dengan segala luka orang-orang tertindas. Ia selalu menjaga keadilan melalui pistol + tampangnya (yang cuek) + kuda-putihnya (yang jadi karibnya). Ia menjadi pahlawan di banyak tempat.
“Sungguh mujur seorang wartawan mengadakan perjalanan dengan seorang yang terkenal,” seru Greely di atas kereta kuda yang mengangkut mesin cetak. Greely dan Luke jalan beriringan.
Greely dengan suka cita menawari Luke pekerjaan: membantu Daily Star jadi Kekuatan Keempat. Artinya, jadi “kekuatan” tertentu di tengah para koboi setelah “mulut”, “pistol”, dan “serif”. Dunia cowboy adalah dunia yang alpa terhadap hukum, pemerintah, atau rapat parlemen. Tiap ada soal diselesaikan selekas-lekasnya – dengan cara yang seksama, pertama-tama dengan adu mulut. Bila tidak usai, yang kedua, lewat adu jotos dan senjata. Jika masih runyam, yang ketiga, lewat lencana serif – sebagai komandan para koboi yang disegani, dalam mengatur hidup para koboi. Dari kesemuanya, yang pasti, yang namanya letusan senjata seolah jadi ketukan palu hukum “siapa cepat dia berkuasa”.
Ajakan Greely menunjukan butuhnya pejuang lain selain keberanian melaporkan informasi yang buruk-buruk.
“Yaap!” Jawab Lucky Luke cuek, di atas kuda putihnya.
Keduanya berjalan menuju kota Dead end City. Di kota inilah, cuplikan kisah jurnalisme coba ditengok. Berbagai adegan komiknya mencerminkan dasar-dasar jurnalistik dijelaskan.
Misalnya ini:
Sesampainya Greely dan Luke di kota Dead end City, terjadi peristiwa yang tidak biasa ditemui penduduknya. Kisah bermula di tempat minum yang bernama saloon Dead end Gulch. Tempat yang biasanya bersuasana tentram tiba-tiba dikagetkan dengan sesuatu yang muncul dari pintu saloon.
“Hebat! Daily Star memilih Dead end City! Direkturnya menjelaskan!” Suara keras Greely muncul membuka pintu gantung sambil membawa tumpukan koran. Semua orang bingung.
“Berita khusus, jadwal ibadah!” Greely menawarkan pada dua tamu. Keduanya langsung tersedak, menyemburkan minuman beralkohol ke atas meja.
“Salinan lengkap khotbah pendeta....”
“Huh! Orang alim!” Seru salah satu pemain kartu sembari menendang pantat Greely. Matanya melotot. Wajahnya yang berjenggot tebal terlihat gusar.
“Daily Star! Berita kelahiran!” Seru Greely pada sesosok tua bertopi tinggi berhidung bengkok berdagu runcing. Sosok tua ini ialah penjual peti mati. Maka itu, mendengar teriakan Greely, penjual peti mati ini hanya melirik sedikit. Tatapannya dingin. Di meja tempat ia duduk, bersandar sekop penggali kubur.
“Bagaimana membuat apel goreng yang berhasil!” Kali ini teriakan Greely tertuju pada empat pemain kartu yang tengah khusuk memenangkan tumpukan uang kertas dan gemerincing uang logam yang berserakan di tengah meja.
Salah seorang cuma menggeserkan lehernya sedikit ke muka Greely. Satunya lagi, dengan cerutu di mulut, menatap tak acuh. Mata keduanya seperti tertutup. Dua orang lainnya tetap melihat kartu di meja. “Empat As!” Cetus salah satunya.
Greely putus asa. Menyimpan tumpukan koran yang belum terjual satu pun ke atas meja bartender.
“Sini, Greely, kasih aku satu!” Kata Lucky Luke, yang tengah duduk minum.
“Tanpamu, aku akan putus asa!” Greely berkata sambil menenggak minuman.
“Kau harus bicara tentang hal yang menarik minat mereka....” Jawab Luke cuek. Matanya membaca koran.
“Puah!” Greely memuntahkan air di mulutnya.
“...mutu minuman itu, misalnya!” Contoh Luke.
“Kau benar, whiskinya asam. Harus diselidiki!” Lanjut Greely.
Lalu terdengar suara Greely bertubi-tubi memesan minum.
“Satu bourbon, satu gin, satu bir, satu kiss-me quick, satu rhum, satu abshinte, satu arak, satu pick-me-up, satu jeruk soda, satu sherry, satu brandy, satu honey moon, satu teh cina asap, satu scoth, Vermouth-adas....”
Memenuhi pesanan bertubi-tubi itu, bartender jadi sibuk bukan main. Tangannya kesana-kemari mencari, mengucurkan, menyediakan minuman yang diminta. Wajahnya confuse.... Kedua matanya bertanya-tanya. Mukanya bergoyang ke kiri dan ke kanan. ”Ini mau mentraktir?” pikirnya, linglung.
Luke pun terhenyak. Topinya sampai terangkat beberapa senti dari kepalanya. Ia menatap Greely, tidak percaya. Ada tanda seru bercampur heran di wajahnya.
Tak berapa lama, Greely terlihat keluar dari saloon Dead end Gulch. Langkahnya zig-zag. Ia berjalan sempoyongan. Mulutnya senyam-senyum. Kepalanya terlihat dipenuhi bintang-bintang yang berputar-putar di atasnya. Ia puyeng.
Tapi, ada yang aneh. Sembari berjalan, dari mulutnya, tak henti-henti memuncratkan kata-kata, omongan yang tidak biasa diucapkan pemabuk. Ia tidak mengungkapkan rengekan, atau caci-maki, atau kalimat terpatah-patah dalam gumam yang tak jelas. Ia lebih banyak menceracaukan kalimat-kalimat yang mengandung fakta-fakta. Kebenaran menyeruak dari lontaran kata-katanya. Hanya nada, irama, dan gaya omong, sembari berjalan oleng, yang menunjukan ia memang mabuk berat. Bunyi sendawa, cegukan demi cegukan, di tiap akhir kalimat, selalu menyertai segala kalimat yang diungkapkannya. Misalnya:
“Mutu rendah dibanding harga, hips....Jeruk dipalsu, hips....Tehnya bukan dari Cina tapi dari Ceylon, hips....Terlalu banyak bloody dalam mary....’
Sementara itu, di dalam saloon, suasana terpusat pada raut kebahagiaan bartender. Rautnya bukan buatan renyahnya. Terus-menerus ia membayangkan kejadian barusan. Begitu banyak pesanan minuman mengalir. Ia seperti merasakan kentungan yang melimpah bakal berdatangan ke dalam saloon-nya. Sungguh.
Ia merasa mendapat pelanggan yang penuh cinta. Dengan perasaan enteng, ia membereskan minuman yang berkali-kali dipesan Greely. Cerah, berkata ia kepada Luke.
“Jika semua langganan seperti dia, saloonku akan laku keras nanti!”
Di tengah perasaan yang berbinar-binar itu, ia tidak sadar dari pintu masuk saloon-nya muncul kesulitan. Ia seperti tak percaya, ada kegilaan yang bisa muncul dari pintu saloon-nya.
Ini bukan letusan pelor. Baku hantam? Juga bukan. Adu omong, sampai urat leher menyendol bergurat-gurat, juga bukan. Lalu?
Muncul teriakan dari pintu gantung yang terbuka. Teriakan itu teriakan tukang koran yang memberitakan apa isi koran yang dijualnya kali ini. Teriakan itu muncul dari suara orang yang sebelumnya memesan minuman bertubi-tubi pada bartender. Suara itu suara Greely. Suara itu berteriak dengan lantang:
“BOIKOT SALOON INI!”
Ini bukan suara yang biasa ada di masyarakat Dead and Gulch. Suara macam ini tak pernah terdengar. Suara teriakan macam itu adalah suara yang menggugat. Bukan celotehan yang biasa muncrat dari bibir para cowboy.
Teriakan para cowboy adalah teriakan yang bermusuhan. Mereka berteriak-teriak untuk menyalurkan hasrat menembak habis musuh di depan yang tidak mau berhenti melawan. Teriakan Greely adalah teriakan wartawan. Teriakan yang ingin memaparkan pada masyarakat bahwa ada sesuatu yang terjadi. Memang seperti mangajak. Memang seperti memerintah. Tapi, perintah yang tidak mengandung peluru. Teriakan ini lebih berbahaya daripada teriakan yang mengandung bunyi desing senapan yang menyalak.
Sebab, teriakan wartawan adalah suara nurani yang melihat kebenaran berdasarkan fakta-fakta yang bukan fuck you. Artinya, tidak ada keinginan melecehkan hidup manusia. Teriakan wartawan mengandung niat bahwa hidup masyarakat harus dibela berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab. Artinya, tidak ada kekuatan yang untuk sekedar memuaskan nafsu jagoan.
Itu berarti, teriakan Greely lebih bisa dipercaya. Jika bisa dipercaya, maka teriakan Greely bisa menghancurkan usaha Sang Bartender.
KLING! C-KLING....Suara gelas pecah terdengar....Muncul dari meja panjang bartender. Gelas itu jatuh dari tangan bartender yang seperti kena setrum. Bartender itu kaget bukan kepalang. Dari teriakan Greely itu kemudian bersusulan muncul suara-suara kebenaran.
“MINUMAN ANDA DIPALSU, INI HASIL PENELITIAN DAILY STAR!” Teriak Greely memecah ruang. Teriakan itu dibawakannya sembari memutari saloon. Sembari mengacung-acungkan korannya, Greely mendekati tiga cowboy yang tengah minum. Greely menyodorkan berita terbaru dari korannya. Greely menunjukan hasil reportasenya. Greely membuktkan temuannya yang didapat sampai ia harus berjalan sempoyongan, setelah mencicipi langsung minuman palsu di segala jenisnya.
Salah seorang cowboy tiba-tiba menyemburkan setegukan minuman dari mulutnya ke lantai demi mendengar penipuan telah terjadi di alkohol pesanannya. Bukan hanya itu. Dua Koboi lainnya bergerak pula. Mereka tersentak, ingin tahu apa yang terjadi.
Kedua Koboi itu mengacungkan tangannya. Mereka mengeluarkan uangnya kepada Greely. Mereka, yang tadi cuek banget, kini seperti buru-buru hendak membeli berita yang dibuat Greely.
“Ssst, sini!” Desis salah seorang Koboi itu kepada Greely. Ia minta Greely mendekat lagi, dan membeli satu edisi korannya kali ini.
Tapi, suasana kebalikannya terjadi di ujung ruang: adegan pilu terlihat. Bartender itu tampak linglung, sedih, galau, dan segudang rasa payah lainnya. Ia memegang kepalanya. Tubuhnya yang tambun bergetar. Tangannya yang gempal gemetar. Kumisnya yang rapih terlihat tak lagi manis. Wajahnya yang cerah tampak runyam. Kedua matanya berputar-putar, tidak pada tempatnya. Tampak kesedihan yang mendalam. Ia seperti memendam kebingungan yang tak lagi bisa dikuasainya. Ia bergumam-guman, mengeluarkan kata-kata tak kunjung tegas dikeluarkan. Saking groginya, dari mulutnya malah keluar kata-kata sedih. Ia menyesali pecahan gelas yang terlepas dari tangannya.
“Cangkir, gelas ibuku!” Keluhnya, pada gelas yang pecah.
Sementar Greely terus mengumandakan isi koran terbarunya. Ia kini mendekati meja si penjual peti mati. Ia kini meriakan berita yang berbeda.
“Uskup O’Callagan kambuh lagi. Keluarganya kuatir! Bacalah Daily Star!” Teriak Greely di dekat meja penjual peti mati. Teriakan itu adalah teriakan berita yang ingin mendekati kepentingan pembacanya. Pembacanya kali ini adalah seorang yang tak berminat pada kehidupan yang biasa-biasa saja. Ia berminat hanya pada soal-soal yang berbau kematian.
“Sssst!” Desis penjual peti mati.
Ia tertarik untuk membaca lebih lanjut soal sakit parahnya seseorang. Ia tergerak. Mulutnya terbuka. Matanya terbuka. Rautnya bersinar. Ia mengacungkan satu jarinya. Ia ingin tahu apa isi berita si sakit yang didengarnya dari mulut Greely. Ia harus membeli koran Daily Star.
Yang tak berubah hanyalah sekop-penggali-kuburnya, posisinya tetap bersandar di meja.
Usaha Greely tak hanya di situ. Ia kembali melolong. Tapi, kali ini, ia mendekati empat pemain kartu yang tadi sempat menendangnya. Tak mengacuhkan teriakan kehadiran korannya. Greely menyiapkan satu teriakan berita yang kali ini, menyemburkan laporan tentang:
“Seribu satu cara untuk menipu tanpa ketahuan!”
Keempat pemain kartu itu pun celingukan. Pura-pura tak memedulikan acungan koran Greely. Tapi, mata mereka mendadak membeliak. Mulut mereka tiba-tiba ternganga. Dari mulut salah satu pemain, sebuah cerutu meloncat sekian senti dari mulut. Cerutu masih panjang. Ia tampaknya tak tahu cerutunya loncat dai jepitan bibirnya. Bukan hanya dia yang terkesima mendengar informasi yang penting bagi hidupnya saat itu. Dua lembar kartu tampak terlempar begitu saja dari tangan seorang pemain yang lain. Kartu itu melayang seperti tak bertuan. Meliuk-liuk dari meja ke lantai.
Greely pura-pura tak melihat. Sebab, benar, setelah itu ada yang terkail oleh umpannya.Tak lama kemudian, empat desis yang cukup keras berbunyi serempak.
“Sssst!”
“Sssst!”
“Sssst!”
“Sssst!”
Bukan hanya desis yang terdengar serempak berbarengan. Tiap satu tangan mereka pun terangkat berbarengan. Satu tangan lainnya sudah kehilangan pegangan pada kartu yang dari sejak awal permainan tak pernah lepas dari jepitan jemari.
Ruangan saloon kini tak lagi senyap. Semuanya menyerobot Daily Star sebagai pedoman untuk menggali apa yang terjadi di kota ini. Daily Star menjadi sesuatu yang bermakna. Setiap pengunjung saloon memelototi isi koran. Ketenangan mereka, yang selama ini, tak pernah tersenth kebenaran sebuah berita, terusik. Sampai wajah penjual peti mati pun, yang biasa dingin, tak bercayaha, tak mau tahu urusan di sekitarnya, berubah. Ia seperti memburu harapan pada apa yang akan terjadi. Mereka kini membuat koran Daily Star sepersis barang hidup.
Yang paling terlihat bersinar-sinar ialah Greely. Mukanya yang tadinya terlihat lelah, pedih, tanpa harap, kini seperti memancarkan kilatan-kilatan kepuasan seorang wartawan. Kepuasan mendapatkan segenggam harapan bahwa korannya tak lagi dianggap sampah. Berita-beritanya telah membuat orang-orang ingin melonggok pada apa yang dilaporkannya.
Yang tak berubah ialah Lucky Luke. Ia hanya menampilan bentuk bibirnya yang agak menjorok ke depan, akibat terbiasa menyulut rokok lintingan, tampak menyunggingkan sedikit senyum. Selebihnya, adalah sosok cowboy yang cuek, seperti tak perduli dengan seluruh isi ruang, segala tingkah polah orang.
Luke di sudut tersenyum, sedikit tapi tetap cuek.
Namun, suasana mendadak berubah.
Bartender bertubuh tambun tiba-tiba muncul di depan Greely. Mukanya garang, melotot, siap bertarung. Moncong senapan siap menyalak ke muka Greely.
“Bilang, whisky saya tidak enak!” Bentak bartender.
Bau kematian terasa. Warna komik menjadi ungu. Semua wajah menjadi kelabu. Wajah-wajah menunggu peluru meletus .... di sebuah dunia cowboy yang berantakan.
Tapi, sebuah sentakan menyabet suasana. Muncul dari Greely. Wajah ungunya berubah, merah marah mewarnai raut kewartawanannya. Ia mencelat dari getir kematian. Ia tersedak oleh kemarahan melawan ancaman. Ia marah. Ia berteriak.
“Setia pada semboyannya, Daily Star menulis dengan jelas apa yang dipikirkan orang diam-diam!
“Whisky Anda dicampur!”
Semua itu dikatakannya dalam todongan senjata. Bartender itu tambah menggelegak. Ia siap memakan jiwa wartawan di depan yang telah menghancurkan reputasi saloon-nya. Wartawan yang mengobrak-abrik kecurangannya, mengembar-gemborkan kepalsuan jualan minumannya. Ia merasa di-pelototi kejahatannya di depan para pelanggannya.
Warna kematian kembali muncul. Todongan senapan sudah siap menyalak.
Di dekat mereka, juga ada yang tengah bersiap-siap, mengantisipasi kesudahan kejadian. Tubuh yang terbujur kaku, sehabis peluru mengoyak tubuh, dimasukan ke dalam peti mati. Penjual peti mati itu terlihat bergerak-gerak dan bergumam. Ia mengukur-ukur tubuh Greely. Ia mencatat ukuran yang pas bagi kotak perti mayat Greely. Ia menyisipkan harapan, dalam gumamnya. “Anda akan puas. Barang kami dijamin awet.”
DOR!
Salak senapan menyentak.
“?”
Orang-orang kaget. Terpana. Mereka yang telah menunggu kejadian sepersis yang dibayangkannya, tersentak oleh bunyi letusan yang bukan dari arah semestinya. Tbuh Greely tidak terkulai ke lantai. Ia tidak bersimbah darah. Bunyi letusan itu bukan dari bartender.
Arah munculnya dari belakang bartender. Dari belakang terlihat ada garis peluru melesat. Menyentak gagang depan senapan bartender. Pas. Tidak meleset sedikit pun. Membuat senapan itu terlepas dari genggaman tangan bartender. Membuat pemegangnya kaget bukan buatan. Saking kagetnya, tubuh bartender terlompat sekian senti dari lantai.
Loh??? Seru orang-orang berbarengan.
Disusul lontaran suara yang enteng dari belakang Greely dan bartender. Muncul dari sudut meja.
“Jangan menyentuh kebebasan pers!”
Katanya kalem. Cool. Seperti tidak terjadi apa-apa. Lucky Luke. Asap peluru tampak mengepul dari ujung pistol yang menggelantung di gesper-pinggang Luke, seolah tidak bergerak sedikit pun. Seperti tidak dikeluarkan dari sarungnya, ditarik picunya. Seakan peluru itu melesat melebihi bayangannya sendiri. Itulah gaya Lucky Luke, cowboy yang punya kecepatan menembak di luar kemampuan orang biasa. Musuh-musuhnya tak pernah tahu kapan pistol itu keluar dari sarunnya. Saking cepatnya, bayangan sendiri sempat terheran-heran.
Seperti tidak ada apa-apa, Lucky Luke dengan enteng menyandarkan satu tangannya ke meja bartender. Satu tangan lagi memegang gelas bir berisi setengah.
Setelah sekian detik terpana, tidak tahu harus berbuat apa, dan kemudian sadar apa yang terjadi, barulah terdengar suara-suara kehidupan bergaung kembali. Semua orang bergerak lagi. Tiap orang dan barang di komik pun berwarna beraneka lagi. Hanya penjual peti mati yang tidak terlihat bergerak. Ia kembali terlihat duduk di meja, tak acuh, dengan sekop galiannya bersandar di meja. Ia tidak mau terlibat dengan suasana yang berubah mendadak jadi hingar bingar.
Orang-orang kini dirasuki kemarahan. Mereka baru tahu ada yang tidak beres di saloon, ada yang tidak asli di minuman yangselama ini mereka teguk. Mereka kesal.
Berbagai teriakan berloncatan, muncul dari berbagai sudut saloon. Gaduh. Suara-suara protes, yel-yel yang memaki bartender campur yel-yel yang Horace Greely.
“DAILY STAR BENAR! WHISKYNYA DICAMPUR!
“HIDUP DAILY STAR !
“PEMALSUAN PASTI KETAHUAN!”
Keadaan menjadi berbalik. Kini Bartender yang gelisah. Walau tidak berwarna kelabu, rautnya, matanya, mulutnya, tampak resah. Ia celingukan ke berbagai suara yang memrotes. Kepalanya kesana-kemari berputar-putar, dengan ketakutan yang amat sangat, pada berbagai arah suara. Ia tahu setelah gadh suara bakal ada yang lebih seru dan bikin keder terjadi. Kerat-kerut rautnya dipenuhi tanda seru. Waspada dan cemas pada segala isi saloon.
Dan, benar.
BUK! ... PRANG! .... BUK!! .. PRANG!! ... BUK!!! PRANG!!! Semakin banyak dan cepat terdengar.
Itu berbagai bunyi barang pecah-belah, dan kursi, dan meja, dan dinding, dan segala perkakas yang ada di saloon. Semuanya terbanting-banting, terbolak-balik, bergling-guling bagaikan ada gempa. Bukan hanya itu. Perkelahian pun terjadi. Suara-suara pergumulan terdengar di dalam saloon. Suara-suara gaduh perkelahian para cowboy di negeri yang berantakan. Hukum berlaku melalui pukulan dan tendangan, rasa jadi jagoan dan rasa kecut, lewat keberanian dan ketakutan....
lemparan-lemparan botol whisky, meja dan bangku ....
Khas dunia western cowboy diaduk-aduk suasana chaos.
Sementara, dua tokoh komik kita tampak muncul di luar saloon. Di belakang keduanya, dari pintu dorong saloon, berloncatan botol-botol minuman, kursi, meja....
Di tempat penambatan kuda, Kedua kuda Greely dan Luke tampak bercakap-cakap.
“Puah! Air minum ini dicampur” Seru kuda Greely menyemburkan air dari palung penambatan kuda.
“Mungkin kau akan jadi berita di Daily Star!?” Kata kuda Luke.
....
Kedua tokoh komik kita kemudian tampak berkuda menuju sebuah tempat.
“Ini kedua kalinya kau menyelematkanku!” Kata Greely.
“Dan aku rasa ini bukan yang terakhir....” Jawab Luke.
“Benarkah, Lucky Luke? Bersedia membantu? Kau mau bekerja di bidang pers, kawan?
“O.K.!....Setuju, Greely!”
“Aku gembira kau bersedia menjadi pelindung kebebasan pers!”
Dari dongeng komik ini, tampaknya, tergambarkan pertanyaan: dimanakah jurnalisme diletakan? Bagaimanakah orang memakai jurnalistik sebagai kegiatan bertutur kabar? Siapakah yang memberi tahu berita sebagai barang penting? Buat apakah jurnalisme dikerjakan?
Semua tercermin.***
Rabu, 29 September 2010
Tua

Di usia mendekati 50, banyak orang berkilah, menolak sesuatu bernama tua.
Caranya: pura-pura tak mengerti ada tubuh yang meriput, ada wajah yang melorot, ada langkah yang meletoy, ada hari yang meraut: wajahMu.
Maka itu: aku pun pura-pura tak kenal dengan hari bernama “ulang tahun”. Aku pura-pura berkata, hai apa kabar. Sudah lama menunggu. Maaf yaa ….
Tapi, ketika kusapa, ia malah tertawa:
“Loh. Siapa anda.…,” ia malah bertanya.
“Bukankah anda,” Tanya ku.
“Maaf, saya waktu yang tak mengenal siapa-siapa….”
9/6/2010 1:53:32 PM
Rabu, 01 September 2010
Tukang Masak: This is it !
“This is it !” serumu.
Suamimu buru-buru menaburi merica ke dalam resep masakan, siaran tivi kuliner, bahkan jamuan makan istana negara.
Ini gara-gara kemarin malam, ia mendapat kabar dari dapurmu. Ayam itu mengajak bicara empat mata cukup lama.
“Sebagai suami, kau harus pintar menguliahi istri tentang hak asasi hewan yang ingin mati terhormat di dalam perut manusia. Bukan. Bukan ingin masuk surga. Bukan menolak takdir….
“Tapi kami juga punya perasaan. Ingin jadi makanan apa, dengan rasa apa, berikut dengan harga berapa ! ”
Sapi berdiri mendelik terus-terusan diajak jadi tenderloin. Tak sudi melulu menunggu di kulkas. Kambing berkacak pinggang, menggeleng-geleng kepala bila cuma disate. Ikan dan cumi meradang oleh minyak goreng yang tiap hari mengajak kencan. Udang marah-marah disuruh jadi penghias jamuan melulu ....
“Itulah kehormatan dunia kami….
“Beritahu istrimu ! ”
Di pertemuan itu, hadir engkol, daun seledri, bawang, cabe merah dan adiknya rawit, serta tumbuhan lainnya, menjadi saksi.
9/1/2010
Jumat, 27 Agustus 2010
Parlemen
saat kelelawar masuk
ke ruang gaduh berseru-seru,
oleh banyak atribut
oleh saling sikut
oleh mulut kalang kabut
Burung garuda di sudut
menggigil ngilu
2/2/2010
Sabtu, 07 Agustus 2010
KORPORAT MEDIA: A Club Culture
Bagaimana kita memahami Infotainment, misalnya, jadi bisnis yang
menyihir publik terbengong-bengong, tak bisa beranjak, menatap selebritas
tersedu-sedu atau terbahak-bahak, memaki-maki atau memuji-muji (diri sendiri
atau orang lain)? Jawabnya, antara lain, ialah: selamat datang di dunia KORPORAT MEDIA: A Club Culture.
Kini, jaringan korporasi bisnis media telah jadi intrik di di dalam kehidupan sosial dan ekonomi, bahkan politik.
Beberapa pengamat menjelaskan lewat lanskap dunia contemporary cultural producers. McRobbie’s (2000) merujuk sejumlah teori sosial reflexivity, network cultures, governmentality, and individualization sebagai bagian dari kegiatan cultural economy.
Perkembangan tekknologi komunikasi memberi wadah. Sistem komunikasi menjadi cair ke berbagai medium. Dari sanalah, digariskan fase network society, dan perubahan markets berikut buruh, manajemen, dan unit bisnis yang saling berjejaring, dan berkoporasi.
Kapitalisme memroses restrukrisasi orientasinya ke dalam fleksibilitas manajemen, dan desentralisasi. Jejaring perusahaan, secara internal, pun jadi bisa intim berhubungan dengan perusahaan lain (Castells, 1996). Ini berarti kerja penyempurnaan marketing and selling, understanding stakeholder needs, problem solving, designing and deploying effective solutions, and communicating, dari manajemen "korporate" media.
Bisnis media pun berubah jadi mahluk ganas dalam mencari "ceruk" pasar.
Pasar itu ialah pasar informasi, yang kini kian lalu lalang dengan cepat dan merangsak. Tiap publik diserang berbagai channel informasi, di tiap waktu "jaga"-nya. Inilah realitas ekonomi di fase kultur industri berbasis teknologi komunikasi.
Teknologi komunikasi membuat media jadi dapat melayani publik “di mana saja, kapan saja, dan siapa saja”, bisa bercakap-cakap, atau mencari informasi. Imbasnya, menurut Gates (1996) and Negroponte (1995), publik pun terpuruk dalam arus bisnis korporat media massa. Korporasi media massa mengoplos masyarakat (tanpa sadar) ikut serta mengolah kreasi, koleksi, distribusi "keong racun" (contoh) jadi bisnis informasi.
Masyarakat menjadi stakeholders. Masyarakat jadi sehimpun kompetensi yang harus dihitung. Diukur, misalnya: kapasitas local and global environments-nya, skill komunikasinya, dan orientasi peminatannya. Hitungannya tertuju pada raihan iklan. Tiap unit media-korporasi mesti mengkalkulasi nilai informasi: yang diminati iklan.
Ekspetasi korporat media menjungkirkan kenangan lama tentang pers sebagai Anjing Penggonggong .
Bagi jurnalisme, ini merubah pola gatekeepers, para penjaga gawang berita. Mereka tidak lagi cuma duduk bertopang kaki. Pengelola media harus berjumpalitan mencari, menelusuri, dan mengkalkulasi, sampai dimana kekuatan isu dan isi berita. Masyarakat menjadi ladang kalkulasi sampai berapa jauh dapat ditembus.
Tak pelak lagi, upaya korporasi media massa menjadi satu lahan yang dibentuk dan dijajagi sebagai sebuah manajemen bisnis. Dimensi egalitarian dan kolaborasi distrukturisasi sebagai kekuatan bisnis informasi. Sifat-sifat links yang menghantarkan email kita terkirim ke berbagai medium, diraih korporasi media ke dalam penghantaran pemberitaan yang bisa menjambangi berbagai khalayak di berbagai jenjang.
Jejaring korporasinya meminta produk jurnalismenya harus memainkan dengan cermat dan jeli unsur-unsur berita, seperti Immediacy, Proximity, Consequence, Conflict, Oddity, Sex, Emotion, Prominence, Suspense, dan Progress. Berbagai komponen ini, misalnya, dijelajahi ke ekspektasi minat dan kepentingan khalayak.
Tapi, jangan cuma sekadar mencari laba, masuk ke dalam putaran finansial semata.
Artinya, mutu produk pemberitaan jurnalistiknya tetap dalam standarisasi quality control tertentu. Ekspetasinya, dengan demikian, berada dalam garis korporasi yang menjelajahi ruang “minat dan perhatian” privacy khalayak, namun dengan acuan standarisasi “nilai” produk jurnalisme yang baik.
Pada titik inilah, diperlukan upaya manajemen media
korporasi yang terus-menerus bisa “focus more on activities designed to
transform information into knowledge,” saran Dhir and Harris (2001) ketika
mengemukakan the demand for new corporate competencies. Para pekerja
media (di jenis infotaintment atau crime, misalnya), harus mau
mengukur keuntungan publik, yang lebih maslahat.
Bukan yang mudlarat. Bukan cuma mengukur keuntungan bisnis dan duit: dalam, "analysing, interpreting, and evaluating activities that drive the decision-making process.” Bukan hanya terus-terusan mencari persepsi, experience, atau interes publik yang menguntungkan kekuatan bisnis media semata: dalam adukan programa to entertain dan to inform semata. .
Masyarakat itu juga mesti diberi new time horizons. Horison waktu yang dikerangka korporat-media mesti membuat capaian “continuing education emphasize intellectual capacity and professional development” di dalam produk informasinya. ***
Jumat, 23 Juli 2010
MENULIS ILMIAH (metodologi) KUALITATIF: Edisi K e d u a
Kehidupan manusia modern banyak dikelilingi berbagai “kisah”. Setiap hari, mereka berpapasan dan bertemu dengan berbagai kisah. “Kita bersimpati, dan mengembangkan pemahaman tentang kehidupan, ketika kita mendengarkan banyak kisah,” ujar Brophy (2009).
Di abad ini, banyak kisah menghilangkan “pengetahuan dan kebijaksanaan”, dari generasi ke generasi. Selain itu, menghilangkan “pengalaman” sebagai basis pengetahuan, dan nilai-nilai kemanusiaan. “Kisah-kisah” itu menjadi subtil, menyembunyikan “setengah irama” kemanusiaannya. Kisah-kisah itu dikalahkan oleh pesona “statistic” kehidupan modern
Banyak pihak lalu membangun kembali hubungan narrative and knowledge. Naratif dijadikan kembali sebagai sebuah kunci pengetahuan, a key form of the knowledge they are seeking to capture and share. Di masa lalu, pengetahuan dan naratif amatlah intim, memiliki kedekatan konsep, bahkan menjadi jalan orang berkomunikasi. Tapi, di dunia modern, khususnya selama setengah Abad 20, terjadi pemisahan. Naratif, dan terutama “kisah”, dipisahkan secara “keras”.
Bagi dunia akademis, konsep naratif, dalam pengisahan (storytelling) ini, sebenarnya bukan hanya memaparkan fakta-fakta. Akan tetapi, lebih kepada “memaknakan” pengalaman kehidupan kemanusiaan kita. Pemaknaan yang tidak boleh dikerangka secara semena-mena, melainkan harus “dimaknakan dalam kesadaran akademis: kewaspadaan seorang “pengisah” akademis. Pengisah akademis yang membedakan penulisan: “you can research the story, or you can story the research.”
Pada sisi inilah, unsur storyteling bermain. Creswell (1998) mengusulkan gaya Narative Report. “Di mana para penulisnya menggunakan ‘metafor’ untuk menggambarkan keseluruhan laporan atau studinya”. Dalam kaitan Riset Kualitatif, pengisahan naratif dilakukan berdasar kerangka yang bersifat teknis, metodis, sampai asumsi filosofis, paradigmatis, atau metodologis. Secara sederhana, pengisahan narartif melaporkan “pengalaman” kemanusiaan itu secara tidak linier.
Hal ini didorong oleh saling pengaruh antara science dan sastra, di sepanjang abad 20. Kalangan ilmuwan mendekonstruksi penulisan ilmiah (positivistic). Clifford Geertz (1983) menyatakan banyak riset filsafat tampak seperti studi sastra. Bagaimana risalah teoritis ditulis bagai kisah travelog (Levi-Strauss). Argumen ideologis disusun bagai historiografis (Edward Said). Studi epistemologis dibangun bagai esai politik (Paul Feyerabend). Polemik metodologis muncul sebagai memoar pribadi (James Watson).
*****
Maka itulah, laporan Kualitatif dipenuhi deskripsi detil, penuh warna, dan kelenturan sajian. Laporan kualitatif memberi “perasaan” kepada pembaca, mengenai pelbagai peristiwa dan orang-orang tertentu dari seting sosial yang konkrit. Mereka memusatkan perhatian pada soal-soal seperti sub-sub kultur the others, atau seorang aktor sosial yang ingin masuk ke lingkungannya. Mereka melaporkan kejadian-kejadian riil, omongan-omongan orang (melalui kata-kata, gerak-gerik, dan nada-nada bicara), kelakuan-kelakuan unik, dokumen-dokumen tertulis, atau imaji-imaji visual. Semuanya mengimplikasikan aspek-aspek konkrit kehidupan.
Penulis kualitatif melaporkan meaning of events. Laporannya mengamati berbagai kejadian dan interaksi dari tempat kejadian. Tujuan akhir tulisan kualitatif ialah memahami apa yang dipelajari dari perspektif kejadian itu sendiri, dari sudut pandang kejadiannya itu sendiri. Penulisannya mengulik momen-momen when dan how pengalaman “si subjek”. Nara sumber dan peneliti, antara lain, sama-sama memroses researching and writing, thinking and doing – sesuai Fokus Penelitian. Peneliti Kualitatif menjadi orang yang belajar “sambil jalan”. Apa yang ditemukannya, ialah apa yang dipelajarinya.
Peneliti mencari sekumpulan “representasi”: dari lapangan, wawancara, pembicaraan, fotografi, rekaman, dan catatan pribadi. Riset Kualitatif menjadi sebentuk pekerjaan interpretif, pendekatan naturalistik: berdasar kenyataan atau keadaan yang terjadi, mencoba menjelaskan, atau menginterpretasikan, “pemaknaan”. Di dalam laporannya, akhirnya peneliti bukan lagi menjadi petugas “pelapor”. Peneliti akhirnya menjadi “seorang kreator”. Sosok “saya” (peneliti) hadir di laporannya. “Saya” di sini ialah “Orang Pertama” yang melaporkan pandangan, amatan, dan kajiannya. Ini sepersis dalil “understanding follows doing”.
Saya melihat banyak mahasiswa (sarjana, magister dan doktoral), serta pengelola fakultas, yang membahas penelitian Kualitatif. Ketika buku Menulis Ilmiah Kualitatif Edisi Pertama terbit, saya berbahagia mendengar mereka mendapat penjelasan: bagaimana menerangkan pelbagai peristiwa dan orang, bagaimana mengkonkritkan deskripsi seting sosial, dan bagaimana melaporkan temuannya secara naratif, dst.
Dan, diam-diam, mereka memberi “energi”. Saya tergugah secara multidimensi: untuk menyempurnakan Edisi Kedua buku Menulis Ilmiah (metodologi penelitian) Kualitatif ini.
Maka itulah, pada “Edisi Kedua” buku ini, saya menjelaskan penulisan ilmiah dengan beberapa perangkat dan hal-hal teknis metodologis (Kualitatif). Saya menjelaskan bagaimana “planning, writing, editing and reviewing”, dengan sisipan literasi metodologis di sana-sini. Saya coba mengembangkan ke pelbagai dimensi prosa intelektual yang unik, yang punya subjektifitas sudut pandang menarik, paparan naratif yang emotif, sampai upaya-upaya kreatif lain.
Selain itu, saya coba mendeskripsikan berbagai teknis penulisan seperti Menangkap Topik, Menulis Judul, Menulis Statement of The Problem, Struktur Naratif, Mengalurkan Tulisan, Bahasa Kualitatif, dan Penulisan Akademis. Buku ini juga memberikan contoh-contoh bagaimana mengalurkan laporan ilmiah ke dalam jenis-jenis tulisan tertentu. Tiap klasifikasi digambarkan bentuknya, dan dicoba-contohkan.
Pada buku “Edisi Kedua” buku ini, saya juga melakukan beberapa upaya: mengoreksi, meringkas, menambahkan, dan mengubah outline. Mengoreksi: misalnya, beberapa salah cetak, atau mengubah padanan kata/istilah. Meringkas: antara lain, di beberapa contoh laporan riset di “Edisi Pertama” yang dinilai terlalu panjang dan longgar. Menambahkan: di beberapa bab-bab, bahasan yang memberi ketajaman, kedalaman, dan keluasan tertentu. Mengubah outline: di beberapa bagian dan isi bab. ****